Pemuda Al-Irsyad Lahir Kembali

Utama

DEKLARASI OTONOMI PEMUDA AL-IRSYAD

Sebuah sejarah baru telah lahir di lingkungan Al-Irsyad. Setelah dua puluh tiga tahun ditarik masuk dalam struktur Perhimpunan Al-Irsyad, kini Pemuda Al-Irsyad kini kembali menjadi otonom.

Dengan status otonom ini, Pemuda Al-Irsyad bisa bergerak lebih bebas berkiprah dan mengatur rumah tangganya sendiri, seperti suasana di masa lalu, sebelum Muktamar Al-Irsyad 1985.

Status otonomi Pemuda Al-Irsyad tersebut lahir melalui DEKLARASI  OTONOMI, yang dilakukan Majelis Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di sekretariat Pimpinan Pusat Al-Irsyad, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan, pada Ahad 10 Agustus 2008. Dengan status barunya itu, maka Majelis Pemuda dan pelajar Al-Irsyad, organ pemuda di lingkungan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, berubah menjadi Pengurus Besar (PB) Pemuda Al-Irsyad. Sementara lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad di daerah, akan keluar dari struktur Pengurus Cabang Perhimpunan di daerah mereka, dan berubah menjadi Pengurus Cabang (PC) Pemuda Al-Irsyad.

Dalam acara deklarasi yang diikuti sekitar 40 anak muda Al-Irsyad yang masuk dalam kepengurusan PB Pemuda Al-Irsyad, hadir Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diwakili oleh Ridho Baridwan SH dan Dr. Mohammad Noer, selaku wakil ketua dan sekretaris jenderal

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Hadir pula pengurus Majelis Wanita dan Puteri Al-Irsyad, serta utusan dari lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad se Jabodetabek.

Menurut Ketua Umum PB Pemuda Al-Irsyad Geis Chalifah, otonomi Pemuda Al-Irsyad ini merupakan keniscayaan sejarah, mengingat besaran tanggung-jawab dan kondisi kekinian. “Lembaga otonom dalam Perhimpunan saat ini mengalami kelemahan daya aktifitas setelah sekian tahun direduksi keberadaannya menjadi majelis. Dan itu berimbas besar pada kekosongan satu generasi di tubuh Al-Irsyad,” kata Geis Chalifah dalam pidato deklarasi itu.

Geis juga memaparkan tantangan berat yang sedang dihadapi oleh ormas-ormas pemuda saat ini, karena ormas-ormas itu tidak mampu memnberi jawaban atau solusi memadai bagi persoalan anak muda saat ini. “Maka PB Pemuda Al-Irsyad harus memahami dengan jelas arah kaum muda saat ini dan trendnya ke depan, lalu membuat daftar acuan rencana agar nyambung dengan realitas baru itu,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum PP Al-Irsyad Ridho Baridwan berharap setelah Pemuda Al-Irsyad terlepas dari struktur Perhimpunan maka akan terjalin sinergi yang baik di antara Perhimpunan dan Pemuda.

“Semoga kita bisa bekersama dalam membangun Al-Irsyad menuju masa depan yang gemilang,” katanya.

Dalam pidato tausiyahnya, Dr. Mohammad Noer, sekretaris jenderal PP Al-Irsyad berharap kehadiran Pemuda Al-Irsyad yang otonom ini bisa mengatasi krisis kader yang sangat kronis di tubuh Al-Irsyad.

“Memang krisis seperti itu terjadi di semua organisasi, tapi di Al-Irsyad stadiumnya paling tinggi. Di cabang-cabang, krisis minimnya kader ini sangat terasa. Kita sulit mencari pemimpin pengganti,” kata Mohammad Noer, yang juga aktifis WAMY itu (World Assembly of Muslim Youth).

Dalam kesempatan ini, Mohammad Noer menantang Pemuda Al-Irsyad untuk menggelar training-training bagi angkatan muda Irsyadiin, dan ia siap membantu pencarian dananya dari berbagai sumber.

“Saya dapat membantu Pemuda dalam soal perkaderan ini. Kalau selama ini masalahnya adalah dana, maka saya tantang pemuda! Siapkan proposal perkaderan tingkat nasional, dengan peserta sekitar 50 orang, insya Allah saya bantu pencarian dananya,” katanya bersemangat.

Semoga ini menjadi awal dari sebuah harapan besar, untuk merajut masa depan yang gemilang. Amiiin!

Ilaal Amaami ya Syababul Irsyad!

(MA)