Press Release Muktamar Ke-38

PRESS RELEASE

MUKTAMAR KE-38 PERHIMPUNAN AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH Di Buperta, Cibubur, 7-10 September 2006

“DENGAN KESATUAN DAN PERSATUAN MENUJU KEBANGKITAN
AL-IRSYAD”

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah akan menyelenggarakan Muktamar ke-38 di Jakarta, pada 7 – 10 September 2006. Bertempat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur. Muktamar rencananya dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga akan membuka dan memberi nasihat-nasihat kepada para muktamirin. Sedang penutupan Muktamar insya Allah akan dilakukan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Muktamar sebelumnya yang dilangsungkan di Bandung, dibuka secara resmi oleh Presiden yang lalu di Istana Negara, pada 3 Juli 2000.

Muktamar mendatang diharapkan membawa angin segar bagi Perhimpunan yang sudah berusia 92 tahun ini, sebab Muktamar dilangsungkan setelah lahirnya Keputusan Mahkamah Agung pada April 2005 lalu. Keputusan MA itu menolak kasasi yang diajukan oleh sekelompok orang yang berusaha mengacau Perhimpunan Al-Irsyad itu. Keputusan MA itu sekaligus menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Al-Irsyad yang sah adalah PP yang dipimpin oleh Ir. Hisyam Thalib, yang dipilih oleh Muktamar ke-37 di Bandung, dan yang punya kesinambungan dengan muktamar-muktamar terdahulu. Dengan demikian Muktamar Al-Irsyad ke-38 ini merupakan momentum yang membuktikan bahwa Al-Irsyad SUDAH TIDAK PECAH LAGI.

Keputusan Mahkamah Agung merupakan ketentuan hukum yang telah berlaku tetap. Putusan tersebut membawa implikasi positif bagi Perhimpunan secara umum, yaitu BERSATUNYA KEMBALI cabang-cabang Al-Irsyad ke dalam tubuh Perhimpunan yang sah. Para aktifis dan simpatisan yang selama konflik terbelah dalam kubu pro dan kontra, serta yang memilih bersikap netral, kini juga sudah mengubah posisi menjadi MENDUKUNG Pimpinan Pusat yang sah. Mereka semua itu lah yang berperan besar dalam pelaksanaan Muktamar ke-38 ini.

Untuk menyambut semangat baru ini, maka Muktamar kali ini mengambil tema “DENGAN KESATUAN DAN PERSATUAN MENUJU KEBANGKITAN AL-IRSYAD.” Dengan tema ini, semangat rekonsiliasi dan persatuan diharapkan bisa lebih dominan di arena Muktamar dan dalam aktifitas Perhimpunan Al-Irsyad ke depan.

Muktamar ke-38 ini seharusnya dilangsungkan pada tahun 2005, sesuai amanat Muktamar ke-37 lalu (Bandung), namun karena permasalahan internal, terutama berlarut-larutnya proses peradilan untuk menentukan Pimpinan Pusat Al-Irsyad yang sah, maka pelaksanaannya mundur satu tahun. Dan ini sudah disetujui serta di tetapkan dalam Rapat Pimpinan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diikuti oleh seluruh Pimpinan Wilayah yang ada, di Jakarta pada Januari silam.

Agenda Muktamar:

Muktamar Al-Irsyad kali ini akan mengagendakan usulan perubahan struktur Perhimpunan guna menjawab tantangan zaman. Antara lain usulan pembentukan Dewan Pakar, yang akan diisi oleh para pakar yang berasal dari keluarga besar Al-Irsyad, termasuk diantaranya beberapa nama tokoh nasional.

Juga rencana untuk memperkuat Dewan Istisyariah, terutama merevitalisasi Komisi Fatwa di dewan ini. Dengan pembentukan Komisi Fatwa Al-Irsyad, diharapkan Perhimpunan Al-Irsyad bisa lebih berkiprah dalam pemikiran Islam dan menjaga keselamatan spiritual anggotanya dan masyarakat Islam Indonesia, seperti di masa lalu.

Muktamar nanti juga mengagendakan perumusan Program Perjuangan Al-Irsyad, yang meliputi bidang Pendidikan, Dakwah, Sosial, Ekonomi, Kesehatan, Organisasi, Kepemudaan dan Kewanitaan.

Khusus untuk Bidang Dakwah, Muktamar akan merumuskan Strategi Dakwah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sejati, yang jauh dari paham-paham kekerasan dan saling menjatuhkan. Perumusan Strategi Dakwah ini makin urgent dilakukan mengingat kian tertinggalnya Dakwah Islam dalam menyikap kemajuan zaman, serta munculnya kelompok-kelompok sempalan yang dakwahnya justeru gemar memperuncing perbedaan di kalangan umat.

Selain itu, Muktamar juga akan mengeluarkan beberapa rekomendasi, yang terkait dengan masalah-masalah internal dan eksternal.

Yang lebih penting lagi, Muktamar ini juga akan memilih ketua umum baru PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk masa bakti 2006-2011. Diantara nama-nama yang beredar dan mulai disebut-sebut oleh beberapa cabang termasuk beberapa tokoh nasional yang merupakan Keluarga Besar Al-Irsyad. Namun semua itu terpulang pada aspirasi muktamirin.

Pemilihan ketua umum ini merupakan hak muktamirin, jadi Pimpinan Pusat tidak ikut mengintervensinya dengan pendropan calon dari atas. Kami mencoba menerapkan sistem botton up.

Terima kasih
PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH
PANITIA PENGARAH MUKTAMAR KE-38 AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Al-Irsyad Gelar Muktamar ke-38

JAKARTA — Memasuki usia yang ke-92, Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyah akan menggelar Muktamar ke-38. Agenda lima tahunan organisasi dakwah islamiyah ini bakal diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, pada 7-10 September mendatang. Muktamar ini rencananya akan dibuka Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
“Muktamar Al-Irsyad ke-38 ini merupakan momentum yang membuktikan bahwa Al-Irsyad sudah tak pecah lagi,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Al-Irsyad, Hisyam Tahlib, kemarin.

Muktamar ini dilangsungkan setelah lahirnya keputusan Mahkamah Agung (MA) pada April 2005. Menurut anggota Panitia Pengarah Muktamar, Zeyd Amar, MA menolak kasasi yang diajukan sekelompok orang yang berusaha mengacau Al-Irsyad.

“Keputusan MA itu sekaligus menyatakan bahwa PP Al-Irsyad yang sah adalah PP yang dipimpin Hisyam Thalib yang dipilih lewat Muktamar ke-37 di Bandung,” papar Zeyd.

Keputusan MA itu, kata dia, membawa implikasi postif bagi perhimpunan ini secara umum. Saat ini, sambung Zeyd, cabang-cabang Al-Irsyad yang tersebar di 140 kota/kabupaten di Tanah Air kembali bersatu. Tak hanya itu, para aktivis dan simpatisan yang selama ini sempat terbelah dalam pro dan kontra juag sudah kembali mendukung PP pimpinan Hisyam.

Muktamar ke-38 mengusung tema “Dengan Kesatuan dan Persatuan Menuju Kebangkitan Al-Irsyad”. “Dengan tema ini, semangat rekonsiliasi dan persatuan diharapkan bisa lebih dominan di arena Muktamar,” imbuh Hisyam.

Menurut Zeyd, guna menjawab tantangan zaman, Muktamar Al-Irsyad akan mengagendakan perubahan struktur. “Nanti akan diusulkan pembentukan Dewan Pakar,” paparnya. Rencananya, Dewan Pakar ini akan diisi para pakar yang berasal dari keluarga besar Al-Irsyad, termasuk beberapa tokoh nasional.”

Muktamar yang akan diikuti perwakilan dari 140 cabang dari 24 provinsi ini juga akan membahas rencana perkuatan Dewan Istisyariah, terutama merevitalisasi Komisi Fatwa di Dewan itu. Muktamar juga akan merumuskan program perjuangan Al-Irsyad yang meliputi berbagai bidang.

“Yang lebih penting lagi, Muktamar ini akan memilih ketua umum periode 2006-2011,” ungkap Zeyd. Saat ini, telah beredar nama-nama tokoh yang akan dicalonkan. Salah satunya, adalah MS Ka’ban.
(hri )

Derap Persiapan Muktamar

Alirsyad.org. Dengan kian mendekatnya waktu pelaksanaan Muktamar ke-38 Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta, Panitia Pengarah (steering committee-SC) dan Panitia Pelaksana (organizing committee-OC) semakin intensif bekerja. Ini nampaknya dari makin ramainya aktifitas di sekretariat, Jl. Slamet Riyadi I No. 23 Jakarta, dan kegiatan persiapan di beberapa tempat.
Sebagian spanduk Muktamar ke-38 kini sudah berkibar di beberapa titik di Jakarta, khususnya yang berasal dari salah satu sponsor, yaitu Majalah SABILI. Cabang-cabang Al-Irsyad dari Aceh sampai Papua juga sudah diimbau oleh Pimpinan Pusat Al-Irsyad untuk memasang spanduk di depan kantor secretariat masing-masing, dan kalau bisa di beberapa titik lain.

Rapat-rapat konsolidasi juga terus dilakukan untuk mengecek kesiapan dan membantu kedatangan utusan dari cabang-cabang ke Muktamar, yang akan berlangsung di Cibubur (Jakarta Timur) pada 7 – 10 September 2006. Begitu pula dengan pertemuan dengan beberapa media massa nasional, daerah, dan media massa Islam, guna mensosialisasikan Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan pelaksanaan Muktamar.

Muktamar ini direncanakan akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Insya Allah tidak ada halangan bagi kedua pemimpin besar RI itu untuk hadir di tengah-tengah warga Al-Irsyad.

Sebagaimana diketahui, Muktamar ke-37 tahun 2000 lalu juga di buka oleh Presiden RI, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid, di Istana Negara.

Muktamar kali ini mengambil tema: “DENGAN KESATUAN DAN PERSATUAN, MENUJU KEBANGKITAN AL-IRSYAD”. Tema ini sangat mengena untuk menjadi alat merajut kembali persatuan dan kesatuan di tubuh organisasi yang akan memasuki usia 92 tahun ini, pada 6 September nanti, setelah lama diharubirukan oleh konflik internal akut.

Keputusan KASASI Mahkamah Agung RI yang memenangkan Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah pimpinan Ir. Hisyam Thalib, telah menerbitkan semangat baru di kalangan aktifis Al-Irsyad, dari Banda Aceh sampai Jayapura (Papua). Diharapkan di Muktamar Jakarta nanti, fajar baru kebangkitan Perhimpunan Al-Irsyad bisa merekah.

Memang masih ada sekelompok kecil avonturir yang terus mengibarkan “bendera perang” terhadap Keputusan Mahkamah Agung itu, dan terus berusaha mengoyak-ngoyak kembali persatuan yang tengah dirajut kembali itu. Tapi kita selalu percaya pada Allah, bahwa kebenaran pasti akan menang! Dan para pembuat makar itu akan merasakan balasan dari Allah atas segala “makar, fitnah, dusta, dan pecah belah” yang terus coba mereka kibar-kibarkan.

Kepada mereka kita semua berharap agar segera menyadari kesalahannya. Kami semua sudah capai dengan konflik! Begitu besar persoalan umat menghadang kita, dari berbagai bencana dan serangan kaum liberal sekuler di tanah air, sampai pembantaian besar-besaran yang dialami kaum muslimin di palestina, Irak, Libanon, dan wilayah lainnya oleh kekuatan Zionis Internasional. Jangan sampai kita diberi PR (pekerjaan rumah) terus-menerus di dalam internal kita.

(MA)

SUSUNAN PANITIA PENGARAH:

Ketua : Ir. Zeyd Amar
Wakil Ketua : Ridho Baridwan, SH
Sekretaris : Bachtiar, SE, MM
Wakil Sekteraris : Ir. Mahmud Syeban

Anggota:
– Ustadz Abdullah Djaidi
– Ali Mahdami
– Mansyur Alkatiri, SIP.
– Drs. Geys Chalifah
– Thalib Makky
– Drs. Mukhlis Yulizar
– Drs. Haekal Hubeis
– Drs. Nasser Seff
– Lukman Mahdami, Lc.
– Dra. Solecha Bawazier, MM
– Dra Syahrazat S. Albahri
– Hamid Abud Attamimi (Cirebon)
– Geys Afif (Bandung)
– Awod Maretan (Pekalongan)
– Ady Amar (Surabaya)
– Abdurrahman Amhar (Pasuruan)
– Usamah Abdat (Banyuwangi)
SUSUNAN PANITIA PELAKSANA:

Ketua : Z. Wennar Bawazir
Ketua I : Mahmud Anis Baswedan
Ketua II : Ayis Syamlan
Sekretaris : Musliar Z. Djamil
Wakil Sekretaris : Dra. Novi Lilis, MSc.
Bendahara : Migdad Mahfud
Wakil Bendahara : Mustafa Banadji

Muktamar Al-Irsyad ke-38 di Jakarta, September 2006

Musyawarah Pimpinan Al-Irsyad Al-Islamiyyah akhirnya memutuskan penyelenggaraan Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-38 dilakukan di tahun 2006, selambat-lambatnya bulan September 2006. Ini berarti mundur dari waktu yang ditetapkan oleh Muktamar sebelumnya di Bandung, yaitu tahun 2005. Tempat Muktamar pun berubah dari rencana semula Palu ke Jakarta, karena Palu merasa tidak siap. Jakarta sendiri sebelumnya ditetapkan oleh Muktamar Bandung sebagai salah satu cadangan tempat Muktamar ke-38 bila Palu tidak siap. Dua tempat cadangan lainnya adalah Kab. Batu dan Manado.

Seperti tercantum dalam Pasal 14 Anggaran Dasar Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Musyawarah Pimpinan adalah lembaga permusyawaratan dalam Perhimpunan dibawah Muktamar, yang diadakan atas undangan Pimpinan Pusat. Peserta Musyawarah Pimpinan ini adalah: Pengurus Pimpinan Pusat, Utusan Pimpinan Wilayah, dan Utusan Badan Otonom Tingkat Pusat.

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah menyatakan siap mempertanggungjawabkan keputusan pengunduran Muktamar ke-38 ini dari tahun 2005 ke 2006, di forum Muktamar nanti. Menurut Ketua Umum PP Al-Irsyad, Ir. Hisyam Thalib, pengunduran waktu Muktamar ini terpaksa ditempuh akibat adanya konflik dalam organisasi yang terus dikobarkan oleh para “pembangkang” di tubuh organisasi. Konflik ini telah memakan banyak tenaga, konsentrasi, dan dana, yang mestinya bisa dipergunakan untuk kepentingan umat. Tapi terpaksa itu dilakukan karena PP terus menerus diserang oleh para pembangkang yang tidak punya legalitas itu. “Sebab, kalau PP tidak berbuat apa-apa, sama saja dengan membiarkan para avonturir itu mengambil alih PP Al-Irsyad demi kepentingan bisnis dan pribadi mereka,” kata Hisyam.

Musyawarah Pimpinan tahun ini dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 28-29 Dzulhijjah 1426 H, bertemapatn dengan 28-29 Januari 2006. Tepatnya di Hotel ALIA, Cikini. Musyawarah diikuti oleh Pimpinan Pusat, Lembaga Istisyariah, dan 13 Pimpinan Wilayah. Sedang empat PW minta ijin tidak bisa hadir karena beberapa alasan.
Ke-13 Pimpinan Wilayah yang hadir adalah:
1. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
2. Sumatera Utara
3. Jambi
4. Bengkulu
5. Lampung
6. DKI
7. Jawa Barat
8. Jawa Tengah
8. Jawa Timur
9. Sulawesi Utara
10. Gorontalo
11. Sulawesi Selatan
12. Bali
13. Nusa Tenggara Barat (NTB)
Yang minta ijin tidak datang adalah: Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara
Selain penetapan waktu dan tempat Muktamar ke-38, Musyawarah Pimpinan juga memutuskan beberapa rekomendasi lain, baik untuk warga Al-Irsyad maupun untuk Pemerintah Republik Indonesia dan seluruh umat Islam.

Seluruh Keputusan Musyawarah Pimpinan itu adalah sebagai berikut:

KEPUTUSAN MUSYAWARAH PIMPINAN AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Dengan memperhatikan pendapat yang disampaikan oleh anggota Lembaga Istisyariah dan Fungsionaris PW Al-Irsyad Al-Islamiyyah seluruh Indonesia, maka Musyawarah Pimpinan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diadakan pada tanggal 28-29 Dzulhijjah 1426 H / 28-29 Januari 2006 mengambil keputusan sebagai berikut:

1. Setelah mendengar penjelasan dari Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah mengenai kondisi organisasi dewasa ini, Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang semula ditetapkan pada tahun 2005 ditunda penyelenggaraannya pada tahun 2006, bertempat di Jakarta. PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah mendapat amanat untuk menyelenggarakan Muktamar ke-38 Al-Irsyad Al-Islamiyyah tersebut.

2. Musyawarah Pimpinan bersepakat bahwa Yayasan Al-Irsyad Al-Islamiyyah harus menyesuiakan statuta lembaga Yayasan dengan undang-undang tentang Yayasan No. 16/2002 dan No. 24/2004. PP akan membentuk tim untuk menangani status dan keberadaan Yayasan dalam Organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

3. Peserta Musyawarah tetap mendorong PC untuk meminta pengesahan kepada Majelis Waqaf dan Yayasan PPO Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan Yayasan yang berada di cabangnya masing-masing.

4. Seluruh peserta Musyawarah Pimpinan menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya atas korban bencana alam yang terjadi di berbagai tempat di tanah air, yang telah merenggut nyawa dan harta benda yang tidak sedikit, serta rusaknya ekosistim yang berdampak terhadap lesetarian alam lingkungan. Kepada PC yang lokasinya berdekatan dengan daerah bencana dihimbau untuk ikut aktif meringankan korban bencana tersebut.
Oleh karena itu Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah mendukung upaya Pemerintah untuk menindak perusak lingkungan dan pelaku illegal logging serta illegal fishing.

5. Peserta Musyawarah Pimpinan merasa sangat prihatin dengan ghazwah budaya materialistis yang bekerja dan merusak secara sistematis aqidah umat Islam serta budaya bangsa. Peserta Rapim mendesak Pemerintah untuk menindak acara TV yang menayangkan tayangan-tayangan amoral. Peserta Rapim menolak diterbitkannya majalah Playboy versi Indonesia, serta mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mempercepat pengesahan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.

6. Peserta Musyawarah Pimpinan prihatin atas gencarnya usaha kristenisasi di Aceh yang berselubung dalam kegiatan dan kerja sosial yang ditangani sejumlah LSM (NGO) pasca bencana alam Tsunani 2004. Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah mengingatkan perlunya Pemerintah mengawasi secara ketat LSM-LSM agar senantiasa berpegang pada prinsip kejujuran dan menghargai aqidah kepercayaan umat Islam/masyarakat Aceh yang berbeda dengan kepercayaan mereka.

7. Peserta Musyawarah Pimpinan mengajak seluruh umat Islam agar senantiasa membangun ukhuwah Islamiyyah dan menghindari penyimpangan aqidah.

Jakarta, 26 Dzulhijjah 1426 H (29 Januari 2006)