Tag Archives: muktamar alirsyad

Abdullah Jaidi Terpilih Kembali sebagai Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah

KH Abdullah Djaidi terpilih kembali sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah setelah memenangkan pemilihan di hari terakhir Muktamar ke-39 Al-Irsyad di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Rabu (21/6). Abdullah Djaidi akan memimpin Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk periode 20012-2017, didampingi oleh Ir. Said Sungkar sebagai sekretaris jenderal dan H. Ridho Baridwan sebagai ketua Dewan Syuro. Abdullah Jaidi memenangkan pemilihan dalam satu putaran, dengan mengantongi 50 dari 83 suara yang sah. Sementara Umar Basyarahil dan Said Sungkar berada di urutan kedua dan ketiga dengan mengantongi 12 dan 7 suara.

Pemilihan ketua umum ini mengakhiri rangkaian acara Muktamar yang berlangsung tiga hari ini, yang juga merupakan Muktamar Satu Abad Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dihitung dalam kalender hijriah.

Penutupan Muktamar dilakukan oleh Wakil Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar  semalam.

Dalam sambutannya di acara penutupan, Nasaruddin Umar menyampaikan pesan ucapan selamat dari Menteri Agama Suryadharma Ali kepada seluruh keluarga besar Al-Irsyad atas suksesnya penyelenggaraan Muktamar ini dan terpilihnya Abdullah Djaidi sebagai ketua umum. Menteri Agama berharap agar pengurus yang sekarang terpilih mampu membawa Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada kejayaan seperti dicita-citakan oleh para founding fathers-nya.

Nasaruddin Umar juga menjelaskan, bahwa untuk saat ini figur seorang leader saja tidak cukup untuk memimpin masyarakat. Saat ini juga dibutuhkan figur seorang manajer. “Untuk ke depan, kita ditantang untuk menjadi leader tapi sekaligus menjadi manajer,” katanya. “Beri 100 pekerjaan pada seorang manajer, maka dia akan mampu memecahkan 80% pekerjaan hanya dengan duduk di belakang meja dan didepan komputer, dengan setumpuk data yang diperlukan.”

Sementara itu, dalam sabutannya KH Abdullah Djaidi meminta seluruh warga Al-Irsyad agar tidak lagi menoleh ke belakang dalam bekerja, tapi harus melihat ke depan demi kemajuan umat, bangsa dan Negara. “Dan kita harus bekerja dengan landasan nilai-nilai keikhlasan,” katanya.

Abdullah Djaidi juga menegaskan bahwa jabatannya sebagai ketua umum ini bukanlah sebuah anugerah atau hadiah, karena ia tak pernah meminta-minta jabatan. “Tapi kalau kita dituntut masyarakat untuk melaksanakan sebuah amanah yang baik, maka kita tidak dibolehkan menolak,” katanya.

Ia juga meminta agar seluruh warga Al-Irsyad membantunya dengan tidak segan-segan mengingatkan bila ia melakukan kesalahan. Dan sebaliknya bila ia melakukan hal-hal yang baik, maka dukunglah, termasuk pada program-programnya. “Itulah yang juga dulu terjadi pada diri sahabat dan as-salafus saleh,” katanya.*

Kilas Balik: Muktamar Al-Irsyad ke-28 di Surabaya pada 1954

Muktamar Al-Irsyad ke-28 berlangsung di Surabaya pada 6-11 November 1954. Sidang-sidang paripurna muktamar ini dipimpin oleh Letkol H. Iskandar Idris, wakil ketua PB Al-Irsyad (dahulu namanya PB, bukan PP). Karena latar belakangnya sebagai tentara, Iskandar Idris sangat tegas memimpin sidang, termasuk saat mengetok palu untuk menjaga agar sidang tidak bertele-tele.

Muktamar ini juga dihadiri oleh Bapak Mohammad Natsir, Ketua Umum Masyumi.

Dalam muktamar ini terpilih sebagai ketua umum adalah ALI HUBEIS dan Mohammad Basyadi sebagai sekretaris jendral. Sedangkan ustadz Siddiq Surkati menjadi bendahara PB Al-Irsyad. Sedang Mohammad Natsir diangkat sebagai penasihat umum.

Namun, baru satu bulan menjabat sebagai sekjen, Mohammad Basyadi wafat. Ia pun digantikan oleh Mohammad Saleh Su’aedi, salah satu murid Syekh Ahmad Surkati yang asli Padang.

Yang menarik, PB (Pengurus Besar) yang dibentuk di Muktamar Surabaya ini juga memiliki apa yang dinamakan “komisaris”.

Yang diangkat sebagai komisaris saat itu adalah:

– K. A. Ahmad Azhari
– Umar Naji (Bogor)
– Muhammad Munif (Bogor)
– Mohammad Ba’syir (Cirebon)
– Salim Basyarahil (Pekalongan)
– Abdul Qadir asy-Syibli (Pekalongan)
– Ahmad bin Awod al-Urmi (Solo)
– Abdul Majid Attamimi (Solo)
– Salmin Sungkar al-Urmi (Solo)
– Umar Hubeis (Surabaya)
– Faraj Lahmadi (Banyuwangi)

(Diolah dari buku “AL-IRSYAD MENGISI SEJARAH BANGSA”, karya: Hussein Badjerei)