Pelaku Terorisme Terbesar Bukan Muslim!

Sejak serangan 11 September 2001 di New York dan Washington, kalangan politisi, aparat keamanan, akademisi, dan media massa di AS dan Eropa cenderung menggunakan pendekatan kultural dalam menganalisa aksi terorisme di beberapa belahan dunia. Padahal jenis pendekatan ini gagal memahami tindak terorisme secara utuh, karena tidak menyentuh sama sekali akar sebenarnya dari suatu tindakan terorisme.
Demikian diungkapkan oleh pakar terorisme Dr. Anies Rasyid Baswedan, dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan Majelis Pemuda dan Pelajar PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah di kantor sekretariat PP Al-Irsyad beberapa waktu lalu. Diskusi yang dimoderatori oleh Geis Chalifah (ketua Majelis Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad) ini juga menghadirkan nara sumber Dr. Hasan Keleb, direktur perlucutan senjata dan ketahanan departemen luar negeri RI.

Menurut Anies Baswedan, pendekatan kultural itu telah gagal dalam memahami:

Mengapa seseorang melakukan aksi terorisme
Mengapa para teroris memilih sebuah sasaran teror khusus
Mengapa aktifitas terorisme muncul dalam satu waktu khusus

“Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan beberapa analisa lain, yang juga mencakup hubungan antara si pelaku teror dengan yang menjadi sasaran aksi terorisme,” kata Anies.
Terorisme memang memiliki tiga komponen pokok, yaitu Pelaku Teror (Teroris), Aksi Terornya, dan Sasaran Teror. “Nah, model pendekatan kultural yang digunakan Barat selama ini hanya menganalisa hubungan antara pelaku teror dan aksi terornya. Mereka tidak tertarik untuk menganalisa obyek atau sasaran terornya. Padahal obyek teror itu juga punya peran besar dalam terjadinya sebuah aksis terorisme. Mereka juga aktor,” kata Anies, yang cucu Abdurrahman Baswedan, pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) dulu, dan salah satu murid pertama Syekh Ahmad Surkati.

Menurut Anies, pendekatan kultural itu menjadi sangat dominan sesudah serangan 11 September 2001 di AS. Akibatnya yang menjadi tersangka utama adalah: ideologi, agama, psikologi, dan kultur si pelaku teror. Dalam hal ini Islam. Jadi, pelakukan melakukan pemboman bunuh diri itu semata karena faktor ideologi, agama dan kulturnya. Padahal, kalau kita gunakan perndekatan kultural ini, kita tidak akan bisa menemukan akar masalahnya.

“Ideologi, agama, psikologi, dan kultur itu kan sudah eksis sejak ratusan tahun lalu. Pertanyaannya mengapa aksi-aksi teror itu baru muncul sekarang? Jadi ini mensyaratkan kondisi lain. Dan pendekatan rasional mampu menganalisa seluruhnya, ketiga komponen teror, dalam memotret sebuah kejadian teror,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan, beberapa waktu lalu muncul sebuah buku yang menggunakan pendekatan rasional ini, meski penulisnya tidak secara eksplisit mengatakan ini pendekatan rasional. Buku tersebut disusun dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chicago Project for Suicide Terrorism (Proyek Pneelitian mengenai terorisme bunuh diri). Isinya mengkaji titik-titik kejadian teror di seluruh dunia mulai tahun 1980-2004 yang ternyata jumlahnya cukup banyak.

Tim peneliti dari Chicago University ini membalik pendekatan kultural yang melihat nilai-nilai pelaku teror sebagai faktor penggerak terorisme. Tim ini melihat aksi-aksi terorisme itu dari data-data empiris yang ada. Data-data faktual di lapangan itu kemudian dicari korelasinya.

Hasilnya ternyata bertolak belakang dengan image yang selama ini dipancarkan di seluruh dunia bahwa Islam atau Muslim lah pelaku terorisme terbesar sepanjang sejarah. Hasil penelitian tersebut justeru membeberkan bahwa pelaku teror bom bunuh diri yang paling banyak adalah suku Tamil yang beragama Hindu! Bukan Muslim!

Penelitian memang menunjukkan bahwa tempat aktifitas bom bunuh diri yang paling intensif adalah Libanon. Tapi penelitian tersebut juga membuktikan bahwa pelaku aksi terorisme yang paling banyak (71%) adalah Kristen! Bukan Muslim!

“Hasil-hasil penelitian itu mensyaratkan agar kita jangan terfokus pada kultur si pelaku teror. Kalau kita menggunakan yang kultural maka kita akan terburu-buru menghakimi sebuah ideologi. Pendekatan rasional mendasarkan pada kenyataan empiris semua, dan ini bisa mendudukkan fakta yang proporsional,” jelas Anies.

Penelitian itu juga menyingkapkan bahwa orang Amerika yang paling banyak mati karena diculik teroris, terjadi justeru di Amerika Latin! Bukan di Timur Tengah. Di Timur Tengah hanya ada satu dua, itupun kejadian di masa lalu, saat konflik di Libanon. Sesudah itu tidak ada. Kasus penculikan politik tertinggi di dunia ada di Kolombia (Amerika Latin), bukan Palestina atau Libanon.

Kalau kita tidak malas merunut sejarah, maka nampak mulai tahun 1947 ke belakang aksi terorisme yang dilakukan muslim itu sangat minim, hampir tidak ada. Ini peristiwa 50 tahun terakhir.

Pendekatan rasional melihat aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok Muslim dalam berinteraksi dengan lawan-lawannya itu sebagai “pilihan strategis” mereka, bukan ideologinya, bukan ajaran agamanya. “Jadi tidak serta merta bangun tidur langsung meledakkan bom. Itu adalah pilihan strategis yang sudah dihitung,” katanya melanjutkan.

Tapi Anies Baswedan juga mengakui ada trend persoalan ekstremisme -bukan radikalisme, bukan fundamentalisme- dalam memahami syariah Islam. Tapi belum tentu itu menghasilkan bentuk-bentuk kekerasan pembunuhan. Itu bisa berpotensi menghasilkan konflik-konflik internal di kalangan Muslim sendiri. “Itu fenomena sendiri!” tegasnya.

Yang lebih menarik, salah satu kesimpulan besar yang diperoleh penelitian itu menyebutkan bahwa aksi bom bunuh diri itu mensyarakatkan adanya pendudukan oleh tentara asing. “Itu mutlak! Apa yang terjadi di Tamil, Chechnya, Kashmir, Kurdistan, Irak, Palestina, dan lainnya adalah wilayah pendudukan. Kalau tidak ada pendudukan, maka tak ada bom bunuh diri,” kata Anies mengutip hasil penelitian itu.
Kesimpulan lain yang menarik, adalah adanya kaitan antara pelaku teror dengan aktifitas pendudukan. Pelaku teror punya hubungan darah sangat dekat dengan para korban aktifitas pendudukan asing. Misalnya, ada yang ayah atau ibunya mati menjadi korban tentara pendudukan, atau kakak-adik dan keluarga lainnya.

“Jadi tidak ada yang seperti kasus orang Majalengka itu (yang dituduh pelaku Bom Bali II –red.), tidak ada apa-apa tiba-tiba jleger! Kalau menurut Robert Papey (direktur riset bom bunuh diri itu), ini adalah TRIK! Menurut Papey, itu bukan bom bunuh diri,” kata Anies.

Kalau dicoba dipasang dalam kasus Irak, maka data-data empiris memotret bahwa setiap kenaikan 15 ribu tentara pendudukan AS disana maka bertambah satu bom bunuh diri.
“Kalau kita gunakan pendekatan kultural, maka selamanya kita akan lakukan analisis terhadap Zarqawi dan link-linknya. Tapi kalau dengan pendekatan rasional maka masalahnya jadi sederhana: setiap tambah 15 ribu tentara pendudukan, disini tambah satu bom bunuh diri. Itu bisa dikaitkan dengan segala macam kegiatan,” ungkap Anies.

“Jadi dalam pendektan rasional itu, sasaran aksi terorisme juga dianggap sebagai AKTOR. Nah, ini kan politically incorrect. Analis mana yang mau melakukan ini. Mereka takut dituduh membela teroris,” tambahnya.

Mengakhiri diskusi yang dihadiri sekitar 100 irsyaddin itu, Anies menegaskan: “Teror terbanyak itu bukan Muslim. Ini harus diluruskan! Pelaku teror terbanyak itu bukan Muslim! Jadi kalau kita ada yang menyebutkan demikian, maka kita bukan hanya menjawab bahwa Islam itu damai dan sebagainya, tapi juga FAKTANYA SALAH! Faktanya bukan Muslim! Bukan Muslim pelaku bom bunuh diri terbanyak, tapi kelompok lain!

(Mansyur Alkatiri)

Islam diatas Puing Genosida

Islam makin populer di tengah rakyat Rwanda. Ratusan ribu warga Kristen masuk Islam karena ditolong warga Muslim saat pembantaian massal 1994

Alirsyad.org – Adzan shalat Jum’at belum berkumandang, namun muslimin Rwanda sudah memenuhi ruang shalat di masjid utama di Kigali, ibukota Rwanda. Sebagian jamaah yang tidak memperoleh tempat di dalam masjid terpaksa memenuhi ruang parkir, bahkan melebar sampai keluar pintu gerbang masjid.

Pemandangan seperti ini tergolong baru di negara kristen yang pernah tercabik perang saudara ganas dan aksi pembantaian massal (genocide) di tahun 1994, yang menewaskan 800.000 warganya. Sebuah fase kelam dalam sejarah Rwanda yang ternyata menjadi berkah bagi Islam. Pasca perang saudara itu, banyak warga Kristen dan Katolik Rwanda yang menjadi Muslim!

Ya, hampir satu dekade setelah aksi pembantaian ratusan ribu etnis minoritas Tutsi oleh mayoritas Hutu itu, agama Islam justeru semakin populer. Seperti ditulis surat kabar Amerika Serikat, Washington Post, Muslim saat ini meliputi 14 persen dari 8,2 juta warga Rwanda. Ini berarti meningkat dua kali lipat dari saat sebelum genosida tahun 1994!

Kini sudah menjadi pemandangan biasa melihat wanita berjilbab dan laki-laki berpeci khas Muslim Afrika di jalan-jalan kota Kigali. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah Islam dipenuhi murid. “Kami ada dimana-mana,” kata Syeikh Saleh Habimana, pemimpin masyarakat Muslim Rwanda, yang memiliki jaringan masjid di hampir seluruh kota di negara Afrika itu.

Rwanda dikelilingi oleh negara Sudan, Tanzania, dan Uganda, yang memiliki komunitas Muslim cukup besar. Namun agama Islam tidak pernah populer disana sebelum meletus genosida pada 1994.

Pada rentang waktu antara April sampai Juni 1994, milisi dan massa etnis Hutu memburu dan membantai ratusan ribu warga Tutsi. Hanya dalam beberapa bulan, lebih dari separuh warga Tutsi tewas dibantai.

Pembantaian massal itu sangat menohok masyarakat Kristen Rwanda, apalagi terbukti banyak para pastor katolik dan pendeta protestan terkemuka yang terlibat dalam aksi biadab itu. Dan kini mereka harus berhadapan dengan pengadilan kejahatan hak-hak asasi manusia (HAM). Salah satunya adalah Elizaphan Ntakirutimana, kepala Gereja Advent Hari Ketujuh.

Ntakirutimana yang orang Hutu menggiring ribuan warga etnis Tutsi ke gereja nya di provinsi Kibuye dengan janji akan dilindungi keselamatannya. Tapi nyatanya sang pendeta justeru menyerahkan orang-orang Tutsi itu kepada milisi Hutu yang kemudian membantai dengan sadis 7.000-an warga Tutsi itu dalam satu hari.

Pada waktu yang sama, Muslim Rwanda – yang umumnya memiliki ikatan perkawinan baik dengan warga Hutu maupun Tutsi-membuka pintu rumah mereka lebar-lebar bagi warga Tutsi yang ketakutan. Entah kenapa warga Hutu yang Kristen itu tak berani memasuki kampung atau rumah-rumah keluarga Muslim.

Yahya Kayiranga, pemuda Tutsi yang lari bersama ibunya dari ibukota Kigali di awal pembantaian, diselamatkan dirumah keluarga Muslim di kota Gitarama. Disana ia bersembunyi sampai aksi pembantaian itu berakhir. Namun ayah dan pamannya yang tetap tinggal di Kigali, tewas dibunuh.

“Kami ditolong oleh orang yang tidak kami kenal,” kata anak muda berusia 27 tahun itu, seperti dilaporkan surat kabar Amerika lainnya, Chicago Tribune. Ia kecewa berat dengan perilaku para pastor dan pendeta yang justeru ikut terlibat tindakan keji itu. Yahya pun memilih menjadi Muslim di tahun 1996.

“Saya tahu Amerika menganggap Muslim sebagai teroris. Tapi bagi kami orang Rwanda, mereka adalah pejuang pembebas selama masa pembantaian massal,” kata Jean Pierre Sagahutu (37 tahun), warga Tutsi lainnya. Ia yang dulunya Katolik ini memeluk Islam setelah ayah dan 9 anggota keluarganya dibantai oleh warga Hutu yang seagama dengannya.

“Saya ingin menyelamatkan diri ke gereja, tapi tempat itu justeru sangat buruk untuk bersembunyi. Lalu sebuah keluarga Muslim membawa saya, dan menyelamatkan hidup saya.”

Yahya Kayiranga sekarang rajin belajar bahasa Arab dan Al Qur’an di sebuah madrasah di dekat tempat tinggalnya. Ia juga rajin salat lima waktu dan ibadah lainnya. “Awalnya memang berat, tapi setelah dipraktekan secara rutin menjadi mudah, biasa saja,” katanya.

Perkembangan spektakuler Islam ini sangat mencemaskan Gereja Katolik setempat. Menurut beberapa pastur, mereka telah meminta nasihat dari Vatikan untuk menghadapi besarnya arus kepindahan penganut Katolik ke Islam. “Gereja Katolik menghadapi masalah besar setelah genosida. Rasa percaya umat sudah hilang,” kata Jean Bosco Ntagugire, pastur di sebuah gereja di Kigali.

Para pemimpin Muslim Rwanda kini tengah berjuang keras dan menyerukan pentingnya persatuan dan toleransi bagi para mualaf, baik yang berasal dari etnis Hutu maupun Tutsi. Syeikh Saleh Habimana kini salah satu tokoh dalam komisi antar agama yang belum lama ini dibentuk pemerintah Rwanda untuk mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Dan di negara dimana rasa marah dan takut akibat pembantaian massal itu belum hilang benar, masjid-masjid di Rwanda menjadi tempat terjadinya rekonsiliasi secara alami.

“Dalam Islam, Hutu dan Tutsi itu sama,” kata Kayiranga. “Islam mengajarkan pada kami tentang persaudaraan.”

Tak hanya warga Tutsi yang ramai-ramai masuk Islam, warga Hutu juga banyak yang menjadi Muslim. Kalau orang Tutsi masuk Islam karena terkesan dengan umat Islam yang telah menyelamatkan jiwa mereka, orang-orang Hutu masuk Islam karena ingin menghilangkan ingatan penuh kekerasan di masa silam. “Mereka merasa tangan mereka penuh darah, dan mereka memeluk Islam untuk membersihkan diri,” kata Habimana.

Umat Islam Rwanda sebelum ini dianggap sebagai warga kelas dua. Mereka umumnya bekerja sebagai pengemudi taksi dan pedagang, sementara mayoritas warga Rwanda hidup sebagai petani. “Karena kami Muslim maka kami tak dianggap sebagai orang Rwanda,” kata Habimana.

Namun kini setelah agama Islam populer, anggapan seperti itu mulai berubah. “Sekarang kami melihat Muslim sebagai orang yang sangat baik,” kata Salamah Ingabire (20 tahun), yang memeluk Islam di tahun 1995. “Apa yang kami lihat selama masa pembantaian massal itu telah membuat pikiran saya berubah.” (MA)

Ada Gejala Fenomena Jungkir-Balikan Fakta Ajaran Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Drs H A Murdjani Sani mengkonstatir belakangan ini ada gejala fenomena menjungkir-balikan fakta, hal tersebut perlu diwaspadai dan dicermati bersama.

Penjungkir-balikan fakta tersebut antara lain seperti terlihat dalam hukum fikih yang seakan mencoba mengubah kelaziman dengan berbagai alasan, lanjutnya saat kuliah subuh di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Jumat.

Salah satu contoh penjungkir-balikan fakta hukum fikih yang cukup menghebohkan dunia Islam ialah pelaksanaan shalat Jumat yang diimani dan khatibnya dari perempuan, sementara jemaahnya ada laki-laki. Ternyata dari hasil investigasi menduga jemaah laki-laki yang ikut shalat Jumat tersebut bukan muslim sejati.

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu mensinyaler pula gejala fenomena penungkir-balikan fakta tersebut juga terlihat dalam berbagai aspek kehidupan lain, dimana ada kecenderungan dari sementara pihak mengatakan yang benar itu salah dan sebaliknya yang salah dikatakan benar.

Kencederungan-kecenderungan memutar-balikan fakta itu nampaknya cuma dalam konteks untuk mengejar kehidupan duniawi semata atau karena pengaruh faham-faham sekuler, dan lupa akan kehidupan yang kekal abadi di alam akhirat kelak.

“Padahal kehidupan bagi seseorang di dunia ini bagaikan musafir, hanya bersifat sementara, sedangkan kehidupan yang permanen, kekal dan abadi adalah di alam akhirat ,” ujarnya.

Dalam kuliah subuh di masjid kebanggaan kaum muslim di Provinsi Kalimantan Selatan tersebut, Murdjani yang sering menulis dan mengisi rubrik keagamaan di koran tersebut, mengajak terhadap sesamanya untuk meneladani Rasulullah Muhammad Saw yang lahir, hijrah dan wafat pada Rabi’ul Awal 14 abad silam.

“Walaupun keteladanan yang diperlihatkan Muhammad Saw pada 14 abad silam, tetapi contoh dan tauladan Rasulullah tersebut masih bisa dipergegangi, baik masa kini maupun akan datang, hingga akhir zaman nanti manakala kita ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan alam yang kekal abadi,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, dia mengungkapkan beberapa contoh tauladan yang ada pada Rasulullah Saw antara lain sikap kesederhanaan, kejujuran, dan kerja keras tanpa meminta belas-kasih atau menggantungkan pada orang lain.

Mengenai kesederhanaan atau kebersahajaan Rasulullah Saw, dia mencontohkan seperti terlihat dari keadaan rumah tangga beginda rasul, yang tidur di atas dipan terbuat dari pelepah korma dan bertikarkan daun pohon tersebut, sehingga dikala berbangun serta mau shalat masih nampak bekas pelepah pohon “tamar” (korma) itu di belakang badan nabi.

Namun ketika Ibnu Mas’ud menawarkan, tempat tidur yang baik, Rasulullah pun menjawab, “kehidupan di dunia ini hanya sementara, yang kekal abadi itu nanti di alam akhirat”.

(media-indonesia.com)