Malam Silaturahim Idul Fitri Keluarga Besar Al-Irsyad 2017

Foto Bersama pengurus Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dengan Menteri Agama RI dan tamu-tamu undangan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mewakili Pemerintah menyampaikan apresiasi atas  kiprah, peran, dan kontribusi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyah dalam membangun dan membina kehidupan keagamaan di Indonesia.

“Tokoh yang menjadi pendiri Al-Irsyad, Syekh Ahmad Surkati, tidak dapat dipungkiri telah banyak kiprahnya dan sangat memotivasi pemimpin terdahulu, menjadi tokoh pergerakan, yang tidak hanya memajukan bangsa Indonesia, tapi mempunyai gagasan pembaharuan yang beliau tanamkan,” kata Menag saat menghadiri acara Silaturrahim Idul Fitri Keluarga Besar PP Al Irsyad Al-Islamiyyah di Gedung Pegadaian, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis semalam (13/07).

Tampak hadir dalam acara silaturahim ini Duta Besar Sudan, Arab Saudi dan Irak, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, Ketua Umum MUI KH Makruf Amin, perwakilan ormas-ormas Islam, serta warga Al-Irsyad se-Jabodetabek dan Cirebon.

Sedangkan M. Din Syamsuddin dalam sambutannya menegaskan bahwa umat Islam adalah penjaga marwah bangsa. Untuk itu, Din mengajak keluarga besar Al-Irsyad khususnya dan umat muslim umumnya untuk terus merajut silaturahim.

“Boleh berbeda ormas, tapi tujuan satu, tiada lain adalah kejayaan ummat Islam di Indonesia,” katanya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mewakili Pemerintah RI memberi sambutan di Malam Silaturahim, Keluarga Besar Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di Jakarta (13/7/2017)

Dalam acara yang dihadiri ratusan warga Al-Irsyad ini, Ketua Umum Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH Abdullah Djaidi memaparkan peran serta Al-Irsyad dalam memajukan bangsa selama 103 tahun ini, terutama di sektor pendidikan. Al-Irsyad punya sekolah di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Papua.

“Kita memiliki banyak sarana pendidikan dan sosial di seluruh wilayah Indonesia, baik berupa sekolah, madrasah, pesantren, masjid, dan rumah sakit,” kata Abdullah Djaidi. “Semua itu Al-Irsyad lakukan dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa dan umat.”

Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH Abdullah Djaidi

Abdullah Djaidi juga menjelaskan, sejak awal berdiri di tahun 1914 yang ditandai dengan pendirian sekolah pertamanya di Jakarta (dulu Batavia), Al-Irsyad sudah menerapkan pembangunan karakter untuk para siswanya melalui pendidikan agama dan kepanduan. Jadi, Al-Irsyad tidak kaget dengan program sekolah fullday yang sedang digagas pemerintah sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa, karena Al-Irsyad sudah lama melaksanakannya.

“Sejak dahulu di sekolah-sekolah kita sudah ada muatan untuk membangun karakter bangsa, baik di bidang akhlak, adat, tata sopan-santun dan sebagainya,” katanya.

Acara Silaturahmi Keluarga Besar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ini diisi dengan tausiyah oleh Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin. Dalam tausiyahnya, kyai yang juga Rais Aam Nahdlatul Ulama ini meminta umat Islam untuk menghilangkan rasa ego dan fanatik kelompok. “Apalagi sampai pada level takfiri, sampai pada mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan dengannya,” katanya.

Menurutnya, syariah itu ada dua macam: yang sudah ada nashnya secara pasti, dan yang melalui proses ijtihad para ulama. Nash yang sudah pasti itu terbatas, namun peristiwa-peristiwa terus bertambah sehingga banyak ijtihad dilakukan. Maka di Majelis ulama ada Komisi Fatwa.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin memberi tausiyah dalam Malam Silaturahim Idul Fitri Keluarga Besar Al Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta (13/7/2017)

Kyai Ma’ruf menambahkan, proses ijtihad harus dilakukan untuk menjawab perkembangan zaman. Perubahan zaman sering membutuhkan penafsiran baru dalam beragama, melalui proses ijtihad itu. Tapi di masayarakat sering kita temui dua kelompok menghadapi proses itu, yaitu yang sama sekali menolak perubahan sampai titik komanya, dan kelompok lain yang membuat tafsiran-tafsiran liberal, yang menganggap sesuatu bisa berubah kapan saja. “Dua-duanya kita tolak,” katanya.

KH Ma’ruf Amin juga menyoroti munculnya gerakan radikal, baik gerakan radikal maupun radikal sekuler. “Kita yang tengah-tengah saja. Pertama, gunakan pendekatan santun, harus sukarela, jangan maksa-maksa, intimidasi, ancaman, teror,” katanya.

Yang radikalisme sekuler, kata Kyai Ma’ruf, juga bahaya. Mereka inginnya Islam di dalam Masjid saja, jangan di politik. “Nah, ini bahaya. Kalau partai tidak ada agamanya maka akan terjadi politik transaksional,” tegasnya. Kyai lalu menyitir ucapan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, yang berkata, “Telah melemah jiwa perpolitikan pada umat Islam, bahkan hampir mati.”

“Jadi, agama seharusnya menjadi sumber inspirasi, agama menjadi jiwa politik. Jangan sampai ada penyingkiran agama dari sini,” katanya.

Malam Silaturahim Keluarga Besar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ini dilangsungkan dalam suasana menjelang Milad ke-103 yang jatuh pada 6 September mendatang, dan juga Muktamar Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-40 di Bodor pada November nanti.*  MA

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *