Amerika mencari Qur’an

Tindak penistaan terhadap kitab suci Al Qur’an yang dilancarkan interogator militer AS di kamp Guantanamo, justeru membuat banyak warga ingin mempelajari Al Qur’an.

Alirsyad.org – Pemerintah Amerika Serikat boleh saja terus melancarkan perang anti-Islam lewat kampanye ‘Perang Melawan Teror’ (War on Terror). Namun rakyatnya justeru makin penasaran untuk mempelajari Islam. Dan kini beribu-ribu warga mencari-cari Al Qur’an. Mereka ingin tahu Islam dari sumber pertamanya, bukan dari mulut para orientalis yang suka memutarbalikkan ajaran Islam.

Antusiasme warga Amerika itu nampak dari banyaknya permintaan akan kitab suci Al Qur’an yang dibagikan secara gratis oleh Council on American-Islamic Relations (CAIR). Lembaga advokasi Muslim terbesar di Amerika ini sekarang sedang melancarkan kampanye bertema “Explore the Qur’an” (Menelaah Al Qur’an) kepada warga non-Muslim, guna mengikis sikap sinisme dan anti-Islam di kalangan warga Amerika yang tidak tahu Islam.

Sudah sekitar 10.000 warga yang memperoleh kitab suci itu secara cuma-cuma, dan mereka kini giat mempelajari Islam. Antusiasme itu justeru didorong oleh tindakan para interogator militer AS di kamp tahanan Guantanamo yang menista kitab suci Al Qur’an, dengan cara merobek, memasukan ke toilet, bahkan mengencinginya di depan para tahanan. Tindakan biadab itu akhirnya diakui oleh Pentagon (kementerian pertahanan AS), setelah sebelumnya mencoba menyangkalnya. said in a press release Monday, June 6.

“Respon yang sangat positif terhadap kampanye ‘Explore the Qur’an’ ini merefleksikan minat warga biasa Amerika untuk memahami Islam dan umat Islam,” kata Nihad Awad, direktur eksekutif CAIR, seperti dikutip Islam-online.net 7 Juni lalu. Menurutnya, dalam hitungan menit, sudah banyak permintaan Al Qur’an gratis itu melalui telpon ke kantor CAIR, menyusul dipublikasikannya artikel kampanye itu di surat kabar nasional USA Today.

Copy Al Qur’an yang dibagikan itu adalah terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris oleh Abdullah Yusuf Ali, yang diterbitkan di Amerika oleh Amana Publications. Dalam paket Al Qur’an itu juga disertai surat yang menjelaskan bagaimana Muslim menghargai kitab suci itu.

Pekerja Amana Publication Mengepak Al Qur’an

“Tuduhan salah dan kurang informasi sering dilancarkan orang terhadap Al Qur’an. Tapi sekarang, insiatif kampanye ini akan meletakkan teks suci ini langsung ke tangan rakyat Amerika, dan mendorong seluruh warga secara sadar menemukan kebenaran melalui Islam,” kata CAIR dalam siaran pers nya.

Militer Amerika pada 3 Juni lalu akhirnya mengakui lima kasus penistaan terhadap kitab suci Al Qur’an oleh para interrogator dan petugas tahanan di pangkalan Angkatan Laut AS, di Guantanamo (Kuba). Tindakan penistaan itu dilakukan untuk ‘meruntuhkan mental’ para tahanan Muslim yang diciduk secara asal-asalan oleh militer Amerika dari Afghanistan, saat AS dan sekutunya menginvasi dan kemudian menduduki negara Islam itu. Kontroversi ini marak menyusul berita di majalah Newsweek edisi 9 Mei, yang memuat kasus memalukan itu. Newsweek mengutip seorang sumber di pemerintah yang tak mau disebut namanya.

Laporan majalah besar Amerika itu telah memancing protes di seluruh Dunia Islam, dan mengakibatkan korban jiwa sampai 15 orang di Afghanistan.

Amnesty International, lembaga pembela hak-hak asasi manusia (HAM) internasional yang berpusat di London, telah menjuluki kamp tahanan Guantanamo sebagai “Gulag baru.” Gulag adalah kamp penjara dan kerja paksa yang dibuat rezim dictator kejam Joseph Stalin di Uni Soviet dulu. Mendapat tuduhan seperti itu, Presiden AS George Bush marah besar, persis seperti para dictator di negara-negara Dunia Ketiga yang tak tahan kritik lembaga HAM.

Kampanye CAIR itu dilakukan terhadap warga Amerika dari berbagai kelompok profesi pekerjaan, agama, etnis, dan sebagainya, termasuk pula perwira polisi, pendeta-pendeta Kristen, dan para professor.

“Ini bukan buku yang menganjurkan kekerasan, tapi justeru memandang dunia ini dalam kaca mata perdamaian,” kata Arthur Ort, salah satu warga yang memperoleh kitab suci Al Qur’an secara gratis.

“Saya ingin membaca terjemahan bahasa Inggris kitab ini untuk diri saya sendiri. Saya akan lihat apa yang dikatakan kitab ini dan apakah saya bisa memahaminya,” tambah Chuck Roth, seorang veteran Perang Vietnam.

CAIR yang diketuai oleh Nihad Awad ini dikenal luas sebagai lembaga pembela hak-hak kaum Muslimin AS. Peran lembaga ini sangat menonjol dalam empat tahun terakhir, pasca Peristiwa 11 September 2001 yang kemudian disusul dengan serangan dan tindak diskriminasi terhadap banyak Muslim di negeri itu menyusul tudingan media massa dan pemerintah Amerika menuding pelaku serangan itu adalah para militan Islam. Sebuah tuduhan yang sampai sekarang belum terbukti. Apalagi enam dari 21 orang yang dituduh Washington sebagai pelaku serangan bunuh diri itu ternyata masih hidup segar bugar di negaranya, Arab Saudi.

Dalam laporannya 11 Mei lalu, CAIR mengungkapkan bahwa tindak kejahatan, diskriminasi dan pelecehan terhadap Muslim di AS selama tahun 2004 telah meningkat sampai 50% dibanding tahun sebelumnya (2003). Minoritas Muslim AS semakin menjadi korban akibat dikeluarkannya UU Patriot (Patriot Act) dan peraturan-peraturan lain dari negara bagian yang diterapkan setelah serangan 11 September.

Pesan kebencian yang sangat lugas misalnya terlihat bulan lalu di sebuah Al Qur’an yang dibeli seorang Muslim. Di sampul bagian dalam kitab suci itu terdapat tulisan dan gambar yang sangat menghina agama Islam. (MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *