Pandangan Al-Irsyad tentang Shalat Jumat di Hari Raya

Menyikapi jatuhnya Hari Raya Idul Adha 1433 H yang bertepatan dengan hari Jum’at, maka kembali timbul pertanyaan: “Apakah kita masih wajib mengerjakan shalat Jum’at setelah mengerjakan shalat Id?” Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat beragam pendapat dari para ulama.

Pendapat pertama; Tidak wajib mengerjakan shalat Jum’at, tapi masih berkewajiban shalat zhuhur. Pendapat ini dikenal dalam mazhab Ahmad bin Hanbal (Lihat dalam kitab Al-Mughni juz II, bab 106, karangan Ibnu Qudamah.

Pendapat kedua; Tetap mengerjakan shalat Jum’at mengikuti apa yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. Ini sesuai hadist dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda,

Pada hari ini (Jum’at), telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa ingin shalat hari raya, ini sudah mencukupi shalat Jum’atnya (tak lagi wajib dilakukan). Dan sesungguhnya kami akan tetap melaksanakan shalat Jum’at.” (HR. Abu Dawud)

Pendapat ini dianut oleh Imam Malik dan Abu Hanifah, dimana mereka berpendapat bahwa apabila ‘Id jatuh pada hari Jum’at, maka bagi mukallaf dituntut untuk mengerjakan keduanya. Hukumnya shalat ‘Id adalah sunnah, sedang shalat Jum’at hukumnya wajib. Dan yang sunnah tidak dapat menggugurkan yang wajib.

Pendapat ketiga; Tetap wajib mengerjakan shalat Jumat, tapi kewajiban ini hanya berlaku bagi penduduk kota (ahlul madinah). Adapun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi) yang datang ke kota untuk shalat Id (dan shalat Jumat), sementara di tempatnya tidak diselenggarakan shalat Jumat, maka mereka boleh tidak mengerjakan shalat Jumat (tapi tetap shalat zhuhur).

Pendapat ini dianut oleh Imam Syafi’i, seperti termuat dalam kitabnya Al-Umm, jilid I hal 212 bab Ijtima’ul ‘Idaian:

“Apabila terjadi ‘Id jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang berjauhan tempatnya tidak lagi berkewajiban shalat Jum’at sebagaimana keterangan Utsman (khalifah ketiga) dalam khutbahnya pada suatu hari ‘Id yang bertepatan dengan hari Jum’at.”

Khalifah Utsman bin Affan ra. pernah menyampaikan khutbah ‘Id pada hari Jum’at, yang antara lain:

“Barangsiapa dari Ahli ‘Aliyah (pinggiran Madinah) ingin menunggu pelaksanaan Jum’at, ia dipersilahkan menunggu, dan bagi yang ingin pulang dibolehkan pulang.” (HR. Imam Malik di dalam Al-Muwattha’)

Pendapat keempat; Tidak wajib lagi shalat Jum’at dan tidak pula shalat zhuhur. Ini sesuai dengan yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Abu Dawud:

Dari Wahab bin Kisan ra., ia berkata, “Telah berkumpul dua hari raya (Idul Fitri dan Jum’at) pada masa Ibnu Zubair. Kemudian beliau (Ibnu Zubair) menunda waktu shalat ‘Id hingga waktu permulaan siang hari. Kemudian ia berkhutbah dan turun dari khutbahnya (selesai khutbah). Dia (Ibnu Zubair) tidak datang memimpin shalat Jum’at pada siang harinya. Kemudian kami tanyakan masalah ini pada Ibnu Abbas, maka dia menjawab, ‘Dia (Ibnu Zubair) telah menjalankan sunnah Nabi saw.’”

KESIMPULAN PENDAPAT:

Membaca dari dalil-dalil dan pendapat tersebut di atas maka Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah, setelah juga mempertimbangkan pemahaman serta praktek Mabadi Al-Irsyad, yang mana jika terdapat lebih dari satu pendapat dalam suatu perkara yang sama-sama rajih secara hukum maka akan dipilih pendapat yang lebih memudahkan dalam pelaksanaannya. Untuk itu kami menyimpulkan sebagai berikut:

1. Bagi mereka yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka shalat Jumat menjadi tidak wajib hukumnya, akan tetapi  tetap wajib melaksanakan atau menggantinya dengan shalat zhuhur. Bagaimanapun juga, bagi mereka yg mempunyai kelapangan waktu dan kesempatan, maka sebaiknya mendatangi shalat Jumat.

2. Bagi yang tidak melaksanakan shalat ‘Id, maka hukum shalat Jumat adalah wajib, kecuali terdapat rukhshah, seperti sakit atau lainnya, yang dapat membatalkannya. Jadi di sini hukum shalat Jumat kembali seperti asalnya (wajib).

Wallahu a’lam bishawab.

Demikianlah penjelasan di atas, semoga bermanfaat adanya.

PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Ketua Umum

ttd

H. ABDULLAH DJAIDI

Al-Irsyad Tolak Revisi UU KPK dan Pelemahan KPK

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah memberi dukungan penuh kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membersihkan Indonesia dari para koruptor di negeri ini. Maka, Al-Irsyad Al-Islamiyyah menentang keras upaya-upaya pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilakukan oleh sementara kalangan, terutama melalui revisi UU KPK yang mengebiri kewenangan KPK.

Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah, KH Abdullah Jaidi, dalam siaran pers hari ini (Jumat, 5 Otober 2012), yang ditanda-tangani Abdullah Jaidi selaku ketua umum dan Said Sungkar selaku sekretaris jendral PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Menurut Abdullah Jaidi, Al-Irsyad Al-Islamiyyah sangat kecewa dengan langkah anggota-anggota DPR RI yang mengusulkan revisi UU KPK yang mengebiri kewenangan KPK dan juga mengurangi anggaran untuk KPK. ”Perilaku anggota-anggota DPR itu bisa digolongkan sebagai upaya untuk menghalangi pemberantasan korupsi,” katanya tegas.

Al-Irsyad memandang, DPR dan pemerintah seharusnya menambah lagi kewenangan dan anggaran bagi KPK lebih besar lagi, mengingat dua lembaga lain yang berwenang menangani kasus korupsi, yaitu Kepolisian dan Kejaksaan Agung, masih tidak efektif kerjanya. Ini mengingat korupsi di Indonesia semakin menunjukkan peningkatan yang luar biasa besarnya. Bila pemerintah dan DPR tidak serius memberantasnya, maka azab Allah Ta’ala yang sangat pedih bisa datang sewaktu-waktu ke negeri ini.

Al-Irsyad melihat, upaya pelemahan KPK memang sudah lama dilakukan secara sistematis dan melalui berbagai jalur, antara lain lewat uji materi atas UU KPK di Mahkamah Konstitusi, dengan tujuan membatalkan kewenangan penyidikan dan penuntutan oleh KPK, dan  juga dilakukan lewat kriminalisasi terhadap dua wakil ketua KPK yang lalu, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Dan sekarang ada upaya melalui Revisi UU KPK dan pengurangan anggaran untuk KPK oleh DPR.

Menghadapi semua upaya pelemahan itu, PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah berharap agar KPK tetap tegar dan pantang menyerah sebagai ujung tombak perang melawan korupsi. ”Ormas-ormas Islam siap membantu KPK dalam perang ini. Maka, bila DPR berani melemahkannya, maka Al-Irsyad bersama-sama ormas Islam lainnya akan menuntut agar DPR yang sekarang DIBUBARKAN saja karena tidak lagi mewakili kepentingan rakyat dan lebih memilih mewakili kepentingan para koruptor,” tegas Abdullah Jaidi.

Ia menambahkan, ormas-ormas Islam juga merupakan representasi rakyat, dalam hal ini umat Islam. Bahkan representasi umat Islam dalam ormas-ormas itu lebih nyata dibanding di DPR.*

Hasil Hisab Al-Irsyad tentang Awal Ramadhan 1433 H

SURAT KEPUTUSAN
No.  96 – SK – 1433

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sehubungan dengan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan maka Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah menyampaikan hasil hisab untuk penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal 1433H sebagai pedoman bagi warga Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya.

Hisab diperhitungkan untuk Ibukota Jakarta dg Long: 106:50:43.0 dan Lat: -06:12:41.0 dengan level: 10 dpl.

Adapun hasil hisab sebagai berikut:

1.  Awal Ramadhan 1433 H

Ijtima’ pada hari Kamis, 19 Juli  2012  pukul 11.24 WIB, tinggi hilal pada saat matahari ghurub hari Kamis 19 Juli 2012 yaitu;+01º51’59”. Lama  hilal di atas ufuk 8 menit. Besarnya Hilal +00º00’04”. Deklinasi Matahari +20º43’20”  dan deklinasi Hilal +15º54’31”. Hilal miring ke Selatan. Azimuth Matahari +290º44’37” dan Azimuth Hilal +286º13’31”. Elongasi +04º19’08”.

Berdasarkan kriteria Imkanur Rukyah, maka Hilal tidak bisa dilihat sehingga bulan Sya’ban 1433 H akan diistikmalkan. Dengan demikian maka tanggal 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012 M

2.  Awal Syawal tahun 1433 H

Ijtima’ pada hari Jumat, 17 Agustus 2012 M  pukul 22.54 WIB. Tinggi Hilal pada saat matahari ghurub hari Sabtu18 Agustus 2012 ialah+07º32’01”.
Lama Hilal di atas ufuk 31 menit. Besarnya Hilal +00º00’18”
Deklinasi Matahari +12 º53’05” dan deklinasi Hilal +04º42’36”.
Azimuth Matahari +282º51’31” dan azimuth
Hilal +275º36’27”. Elongasi +11º08’31”

Berdasarkan kriteria Imkanur Rukyah, maka Hilal bisa dilihat. Dengan demikian maka tanggal 1 Syawwal 1433 H jatuh pada hari Ahad, 19 Agustus 2012 M.

Hasil hisab tersebut di atas sebagai pedoman sementara, adapun kepastian   penetapanya,  Pimpinan Pusat menghimbau untuk tetap menunggu hasil Sidang itsbat Pemerintah RI yang pada waktunya akan diumumkan oleh Menteri Agama RI.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah puasa dan amal ibadah-ibadah lainnya

Syahrul mubarak

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

  PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Ketua Umum                          Sekretaris  Jenderal

ttd                                                          ttd

KH. Abdullah Djaidi                  Dr. Mohammad Noer
NIA. 101.01.20022                            NIA. 1010420028

Abdullah Jaidi Terpilih Kembali sebagai Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah

KH Abdullah Djaidi terpilih kembali sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah setelah memenangkan pemilihan di hari terakhir Muktamar ke-39 Al-Irsyad di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Rabu (21/6). Abdullah Djaidi akan memimpin Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk periode 20012-2017, didampingi oleh Ir. Said Sungkar sebagai sekretaris jenderal dan H. Ridho Baridwan sebagai ketua Dewan Syuro. Abdullah Jaidi memenangkan pemilihan dalam satu putaran, dengan mengantongi 50 dari 83 suara yang sah. Sementara Umar Basyarahil dan Said Sungkar berada di urutan kedua dan ketiga dengan mengantongi 12 dan 7 suara.

Pemilihan ketua umum ini mengakhiri rangkaian acara Muktamar yang berlangsung tiga hari ini, yang juga merupakan Muktamar Satu Abad Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dihitung dalam kalender hijriah.

Penutupan Muktamar dilakukan oleh Wakil Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar  semalam.

Dalam sambutannya di acara penutupan, Nasaruddin Umar menyampaikan pesan ucapan selamat dari Menteri Agama Suryadharma Ali kepada seluruh keluarga besar Al-Irsyad atas suksesnya penyelenggaraan Muktamar ini dan terpilihnya Abdullah Djaidi sebagai ketua umum. Menteri Agama berharap agar pengurus yang sekarang terpilih mampu membawa Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada kejayaan seperti dicita-citakan oleh para founding fathers-nya.

Nasaruddin Umar juga menjelaskan, bahwa untuk saat ini figur seorang leader saja tidak cukup untuk memimpin masyarakat. Saat ini juga dibutuhkan figur seorang manajer. “Untuk ke depan, kita ditantang untuk menjadi leader tapi sekaligus menjadi manajer,” katanya. “Beri 100 pekerjaan pada seorang manajer, maka dia akan mampu memecahkan 80% pekerjaan hanya dengan duduk di belakang meja dan didepan komputer, dengan setumpuk data yang diperlukan.”

Sementara itu, dalam sabutannya KH Abdullah Djaidi meminta seluruh warga Al-Irsyad agar tidak lagi menoleh ke belakang dalam bekerja, tapi harus melihat ke depan demi kemajuan umat, bangsa dan Negara. “Dan kita harus bekerja dengan landasan nilai-nilai keikhlasan,” katanya.

Abdullah Djaidi juga menegaskan bahwa jabatannya sebagai ketua umum ini bukanlah sebuah anugerah atau hadiah, karena ia tak pernah meminta-minta jabatan. “Tapi kalau kita dituntut masyarakat untuk melaksanakan sebuah amanah yang baik, maka kita tidak dibolehkan menolak,” katanya.

Ia juga meminta agar seluruh warga Al-Irsyad membantunya dengan tidak segan-segan mengingatkan bila ia melakukan kesalahan. Dan sebaliknya bila ia melakukan hal-hal yang baik, maka dukunglah, termasuk pada program-programnya. “Itulah yang juga dulu terjadi pada diri sahabat dan as-salafus saleh,” katanya.*

Sambutan Lengkap Wakil Presiden di Muktamar Al-Irsyad ke-39

Sambutan Wakil Presiden RI pada Pembukaan Muktamar ke-39 Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah tahun 2012

Puri Agung Grand Sahid, Jakarta, 18 Juni 2012

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertama-tama, perkenankan saya mengungkapkan rasa bahagia saya karena berkesempatan hadir dan bersilaturahmi bersama para Pengurus dan anggota perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyah yang akan melaksanakan Muktamar yang ke-39 mulai hari ini.

Sebelum saya melanjutkan sambutan, pada kesempatan pertama ini saya ingin menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden kepada Saudara-saudara sekalian. Dikarenakan beliau sedang bertugas di luar negeri, saya diminta mewakili beliau untuk membuka dan memberikan sambutan pada Muktamar Al-Irsyad kali ini.

Selanjutnya pada kesempatan yang baik ini saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Al-Irsyad yang telah memasuki usia hampir seratus tahun dalam hitungan Milad dan lebih dari seratus tahun dalam hitungan kalender Hijriyah. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah organisasi masyarakat yang mampu bertahan seratus tahun pasti sudah meninggalkan bekas yang mendalam pada kehidupan bangsa ini. Kiprah Al-Irsyad yang telah mewujudkan pengaruh positif ini diutarakan oleh beberapa tokoh nasional.

Cendekiawan muslim almarhum DR Nurcholis Majid dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa Al-Irsyad merupakan salah satu dari tiga gerakan reformis Islam di Indonesia yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satu diantaranya adalah ide yang mengilhami Kiai Ahmad Sahal untuk mendirikan podok pesantren Gontor. Menurut Cak Nur, Kiai Sahal banyak mendapatkan bahan-bahan dari pendiri Al-Irsyad, Sheik Ahmad As-Surkati, terutama tentang gerakan modernisasi dari Al-Irsyad.

Saya ingin mengutip satu lagi pandangan tokoh nasional mengenai Al Irsyad. Pahlawan nasional kita Bung Tomo dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa gerakan Al-Irsyad beliau kenal sejak kanak-kanak sebagai suatu gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia, sejak dalam usaha-usaha untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda sampai pada waktu mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sesudahnya.

Saudara-saudara sekalian,

Kesan yang saya tangkap adalah bahwa Al-Irsyad, memiliki ciri demokrasi dan semangat modernitas  yang kuat dalam tubuhnya. Al-Irsyad tidak menekankan pada hierarki tetapi lebih bersifat egaliter. Sejak awal berdirinya perhimpunan ini memberikan tempat  penting bagi peranan kaum wanita. Ada yang berpendapat bahwa barangkali hal ini karena Al-Irsyad merupakan kelanjutan gelombang modernisasi yang disuarakan Muhammad Abduh dari Mesir.

Islam, demokrasi dan modernitas, ini semua sejalan dengan apa yang kita semua perjuangkan dalam alam reformasi ini. Karenanya saya berharap Al-Irsyad dapat terus mempertahankan dan tampil dengan ide-idenya yang kreatif, inovatif, serta mampu menangkap kembali etos pembaharuan dan kemoderenan pendirinya, dan tidak tenggelam dalam rutinitas yang mengarah kepada kemandekan.

Untuk mencapai semua itu, kita semua mengharapkan dan yakin bahwa Al-Irsyad dapat tetap menjaga keutuhannya dan selalu kembali kepada Mabadi atau prinsip-prinsip mulia yang dicanangkan oleh para pendiri awalnya.

Tantangan umat Islam Indonesia  saat ini bukan hanya  bagaimana secara konsisten mengamalkan toleransi terhadap perbedaan diantara agama-agama dan keyakinan yang ada di Negara Pancasila ini, tetapi juga  bagaimana menjaga persatuan didalam lingkungan umat Islam sendiri dengan menghindarkan diri dari sikap merasa benar sendiri dan sikap sesat menyesatkan. Apalagi bila hal ini kemudian diikuti dengan tindak kekerasan yang melanggar hukum. Dengan   dukungan  organisasi  masa  Islam  seperti  Al-Irsyad, NU, dan Muhamaddiyah dan ormas Islam lainnya, tugas bangsa ini dalam memberantas segala bentuk kekerasan, apalagi yang menjurus kepada terorisme, akan dibuat jauh lebih mudah, demi kemaslahatan masa depan bangsa ini.

Para hadirin yang mulia,

Satu abad sudah  perhimpunan Al Irsyad berkiprah dalam berbagai kegiatan dibidang pendidikan, kesehatan, sosial-ekonomi dan dakwah yang manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Kita semua patut memberikan apresiasi yang tinggi kepada perhimpunan Al Irsyad yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa ini sejak berdirinya  satu abad yang lalu.

Ke depan kita mengharapkan agar Al Irsyad dapat lebih bersinergi dengan organisasi masyarakat lainnya yang memiliki visi dan misi yang sama dalam membangun umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan meningkatkan koordinasi dan sinergi saya yakin tujuan utama kita bersama yaitu membangun masyarakat Indonesia yang madani dan sejahtera dapat lebih cepat terwujud.

Muktamar Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang ke-39 kali ini kita harapkan dapat menghasilkan kepengurusan yang makin solid serta program-program yang makin efektif menjangkau masyarakat kita.

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Dengan mengucap Bismlillahirrahmaniraahim, Muktamar ke-39 Al-Irsyad Al-Islamiyyah secara resmi dibuka.

Selamat ber-Muktamar! Semoga Allah SWT meridhoi langkah kita bersama untuk meningkatkan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Terima Kasih

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Wakil Presiden Republik Indonesia

Boediono

Wakil Presiden Buka Muktamar Al-Irsyad ke-39

Wakil Presiden Boediono secara resmi membuka Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-39 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (18/6). Muktamar yang bertepatan dengan satu abad usia ormas ini, dalam hitungan tahun hijriah, diikuti oleh 115 cabang dan 21 wilayah dari Aceh sampai Papua.

Wakil Presiden Boediono secara resmi membuka Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-39 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (18/6). Muktamar yang bertepatan dengan satu abad usia ormas ini, dalam hitungan tahun hijriah, diikuti oleh 115 cabang dan 21 wilayah dari Aceh sampai Papua.

Di awal sambutannya, Wakil Presiden Boediono menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada seluruh peserta Muktamar Al-Irsyad. Presiden berhalangan hadir untuk membuka Muktamar ini karena sedang ada tugas negara di luar negeri. “Saya diminta mewakili beliau untuk membuka dan memberikan sambutan pada Muktamar Al-Irsyad kali ini,” kata Wapres Boediono.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden mengapresiasi kiprah seratus tahun Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di masyarakat, dan sampai sekarang terus menunjukkan kiprahnya. yang sudah 100 tahun usianya.

“Tak bisa dipungkiri, sebuah organisasi masyarakat yang mampu bertahan seratus tahun pasti sudah meninggalkan bekas yang mendalam pada kehidupan bangsa ini,” kata Boediono. Ia pun lantas mengutip kata-kata Bung Tomo, pahlawan nasional yang menjadi tokoh pertempuran 10 November Surabaya, yang mengaku sudah mengenal gerakan Al-Irsyad sejak kanak-kanak. “Al-Irsyad adalah gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia, sejak dalam usaha-usaha untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda sampai pada waktu mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sesudahnya.”

Boediono juga memuji Al-Irsyad sebagai organisasi yang modern dan punya semangat egaliter. “Kesan yang saya tangkap, Al-Irsyad memiliki ciri demokrasi dan semangat modernitas  yang kuat dalam tubuhnya. Al-Irsyad tidak menekankan pada hierarki, tetapi lebih bersifat egaliter,” katanya.

Menurut Boediono, Islam, demokrasi, dan modernitas, yang melandasi perjuangan Al-Irsyad Al-Ilamiyyah selama ini adalah sejalan dengan apa yang kita semua perjuangkan di alam reformasi ini. “Karenanya saya berharap Al-Irsyad dapat terus tampil dengan ide-idenya yang kreatif, inovatif, serta mampu menangkap kembali etos pembaruan dan kemodernan pendirinya, serta tidak tenggelam dalam rutinitas yang mengarah kepada kemandekan,” kata Boediono.

Wapres juga menyebutkan tantangan umat Islam Indonesia saat ini yang bukan hanya pada bagaimana secara konsisten mengamalkan toleransi terhadap perbedaan yang ada di antara agama-agama dan keyakinan, tetapi juga  bagaimana menjaga persatuan di dalam lingkungan umat Islam sendiri dengan menghindarkan diri dari sikap merasa benar sendiri dan sikap sesat-menyesatkan. Apalagi bila hal ini kemudian diikuti dengan tindak kekerasan yang melanggar hukum.

“Dengan dukungan  organisasi  masa  Islam  seperti  Al-Irsyad, NU, dan Muhamaddiyah, tugas bangsa ini dalam memberantas segala bentuk kekerasan, apalagi yang menjurus kepada terorisme akan dibuat jauh lebih mudah demi kemaslahatan masa depan bangsa ini,” jelasnya.

Dengan meningkatkan koordinasi di antara berbagai eleman masyarakat, diharapkan ormas-ormas Islam termasuk al-Irsyad dapat membangun masyarakat Indonesia yang madani dan sejahtera. “Karenanya saya berharap Al-Irsyad dapat terus mempertahankan dan tampil dengan ide-idenya yang kreatif, inovatif, serta mampu menangkap kembali etos pembaharuan dan kemoderenan pendirinya, dan tidak tenggelam dalam rutinitas yang mengarah kepada kemandekan,” kata Boediono.

Wakil Presiden juga menyambut baik uluran tangan Ketua Umum Al-Irsyad Al-Islamiyyah, KH Abdullah Djaidi, untuk terus membantu program-program pemerintah di bidang pendidikan dan sosial, seperti yang sudah dilakukan Al-Irsyad selama ini.

Selain wapres, juga hadir Menteri Sosial Salim Assegaf al-Jufri, mantan ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, duta besar negara sahabat, dan pimpinan ormas Islam lainnya.

Al-Irsyad Al-Islamiyah berdiri sejak 1914, tersebar di 23 wilayah, serta memiliki 128 cabang yayasan, sekolah, dan pesantren, serta 8 rumah sakit di beberapa kota.

Sebanyak 400 peserta menghadiri muktamar yang dilangsungkan selama dari 18-20 Juni.

Al-Irsyad Al-Islamiyyah berdiri pada 15 Syawwal 1232 H, bertepatan dengan 6 September 2014. Tokoh sentral pendiri Al-Irsyad adalah Syeikh Ahmad Surkati al-Anshari.*