PP Al-Irsyad Lakukan Safari ke Pantura Jawa Barat

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada tanggal 11 dan 12 Agustus melakukan safari kunjungan kelima cabang di wilayah Pantura Jawa Barat. kelima cabang itu adalah Kota PC Cirebon, PC Indramayu, Haurgeulis, Ciledug, dan terakhir Sindang Laut.

Tim dari Pimpinan Pusat terdiri dari Ridho Baridwan (wakil ketua umum), Sulaiman Ganis (ketua majelis sosial dan ekonomi), Mubarak Nahdi (ketua majelis awqaf dan yayasan), Ahmad Bahanan (wakil sekjen), Thalib Makky (wakil bendahara), dan Zeyd Amar (kepala kantor sekretariat). Turut serta pula Mansyur Alkatiri, sekretaris PB pemuda Al-Irsyad, badan otonom yang baru dideklarasikan di Jakarta  sehari sebelumnya. Mansyur memanfaatkan kunjungan ini untuk mensosialisasikan pembentukan otonomi Pemuda Al-Irsyad kelima cabang yang dikunjungi.

Masing-masing pengurus menginformasikan program kerja PP, terutama di bidang pendidikan, sosial ekonomi, Yayasan, dan organisasi.

Cabang pertama yang dikunjungi adalah PC Haurgeulis, sebuah kota kecamatan di Kab. Indramayu yang berkembang sangat pesat. Cabang ini memiliki sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), SMK Bisnis Manajemen, dan Rumah Sakit yang tengah dikembangkan.

PP diterima oleh tim pengurus PC Haurgeulis yang dipimpin ketuanya Fuad Ali Bajrei. Pertemuan yang diselingi dengan makan siang itu berlangsung di RS Syahid Al-Irsyad Al-islamiyyah.

Dari Haurgeulis rombongan PP menuju ke Indramayu,  bertemu dengan pengurus PC dan Yayasan setempat, termasuk ketua PC Faisal al-Bugri dan ketua yayasan, Muhammad Basamkhah, di sekretariat PC Indramayu. Dilanjutkan dengan peninjauan ke TK dan SD Al-Irsyad setempat.

Malam harinya, rombongan PP Al-Irsyad bertemu dengan pengurus PC dan Yayasan Al-Irsyad Kota Cirebon di kawasan wisata Sangkanurip, diawali dengan makan malam.

Dari PC hadir wakil ketuanya Nasir Baraba dan pengurus lainnya, sedang dari Yayasan hadir ketua dewan pengurus Nabil Bafadhal, dan dari dewan pembina Yayasan hadir Ustadz Cholid bin Zoo dan Hamid Abud Attamimi.

Esok harinya, rombongan PP berkunjung ke cabang Ciledug (Cirebon I) dan Sindanglaut (Cirebon II). Keduanya  memang masuk wilayah kabupaten Cirebon.

Di Ciledug pertemuan dengan pengurus cabang yang diketuai oleh Saleh Bayasut. cabang yang sudah berusia 15 tahun ini memiliki sebuah TK Al-Irsyad yang kondisinya memerlukan bantuan karena kesulitan menambah prasarana bermain anak-anak, hingga TK yang merupakan pionir di wilayahnya itu kini mulai berkurang muridnya, tersedot oleh TK baru yang lebih lengkap sarananya.

Di Sindang Laut (Cirebon II), rombongan PP ditemui lengkap oleh pengurus cabang setempat, yang diketuai oleh  Tolib Bayasut. Cabang ini sudah memiliki TK dan SDIT Al-Irsyad. dan sedang berusaha membangun SMP.

Yang menggembirakan lagi, Tolib Bayasut bahkan siap mewakafkan tanah dan sekolah (TKIT, TPA, dan MDA) milik yayasan keluarganya di karangsembung, ke Perhimpunan Al-Irsyad Sindang laut. Keinginan Tolib Bayasut ini disambut baik oleh PP Al-Irsyad.

“Semoga Allah Ta’ala memberi pahala yang besar kepada keluarga Bapak Tolib ini,” kata Ridho Baridwan, wakil  ketua umum PP, sambil mengucapkan terima kasih.

Setelah acara di Sindang laut, rombongan PP segera meluncur ke Kota Cirebon, meninjau sekolah-sekolah di sana, dari TK sampai Sekolah Menengah Komputer (SMK) Al-Irsyad, yang kini menjadi unggulan utama di Cirebon.* (MA)

Pemuda Al-Irsyad Lahir Kembali

Utama

DEKLARASI OTONOMI PEMUDA AL-IRSYAD

Sebuah sejarah baru telah lahir di lingkungan Al-Irsyad. Setelah dua puluh tiga tahun ditarik masuk dalam struktur Perhimpunan Al-Irsyad, kini Pemuda Al-Irsyad kini kembali menjadi otonom.

Dengan status otonom ini, Pemuda Al-Irsyad bisa bergerak lebih bebas berkiprah dan mengatur rumah tangganya sendiri, seperti suasana di masa lalu, sebelum Muktamar Al-Irsyad 1985.

Status otonomi Pemuda Al-Irsyad tersebut lahir melalui DEKLARASI  OTONOMI, yang dilakukan Majelis Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di sekretariat Pimpinan Pusat Al-Irsyad, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan, pada Ahad 10 Agustus 2008. Dengan status barunya itu, maka Majelis Pemuda dan pelajar Al-Irsyad, organ pemuda di lingkungan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, berubah menjadi Pengurus Besar (PB) Pemuda Al-Irsyad. Sementara lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad di daerah, akan keluar dari struktur Pengurus Cabang Perhimpunan di daerah mereka, dan berubah menjadi Pengurus Cabang (PC) Pemuda Al-Irsyad.

Dalam acara deklarasi yang diikuti sekitar 40 anak muda Al-Irsyad yang masuk dalam kepengurusan PB Pemuda Al-Irsyad, hadir Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diwakili oleh Ridho Baridwan SH dan Dr. Mohammad Noer, selaku wakil ketua dan sekretaris jenderal

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Hadir pula pengurus Majelis Wanita dan Puteri Al-Irsyad, serta utusan dari lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad se Jabodetabek.

Menurut Ketua Umum PB Pemuda Al-Irsyad Geis Chalifah, otonomi Pemuda Al-Irsyad ini merupakan keniscayaan sejarah, mengingat besaran tanggung-jawab dan kondisi kekinian. “Lembaga otonom dalam Perhimpunan saat ini mengalami kelemahan daya aktifitas setelah sekian tahun direduksi keberadaannya menjadi majelis. Dan itu berimbas besar pada kekosongan satu generasi di tubuh Al-Irsyad,” kata Geis Chalifah dalam pidato deklarasi itu.

Geis juga memaparkan tantangan berat yang sedang dihadapi oleh ormas-ormas pemuda saat ini, karena ormas-ormas itu tidak mampu memnberi jawaban atau solusi memadai bagi persoalan anak muda saat ini. “Maka PB Pemuda Al-Irsyad harus memahami dengan jelas arah kaum muda saat ini dan trendnya ke depan, lalu membuat daftar acuan rencana agar nyambung dengan realitas baru itu,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum PP Al-Irsyad Ridho Baridwan berharap setelah Pemuda Al-Irsyad terlepas dari struktur Perhimpunan maka akan terjalin sinergi yang baik di antara Perhimpunan dan Pemuda.

“Semoga kita bisa bekersama dalam membangun Al-Irsyad menuju masa depan yang gemilang,” katanya.

Dalam pidato tausiyahnya, Dr. Mohammad Noer, sekretaris jenderal PP Al-Irsyad berharap kehadiran Pemuda Al-Irsyad yang otonom ini bisa mengatasi krisis kader yang sangat kronis di tubuh Al-Irsyad.

“Memang krisis seperti itu terjadi di semua organisasi, tapi di Al-Irsyad stadiumnya paling tinggi. Di cabang-cabang, krisis minimnya kader ini sangat terasa. Kita sulit mencari pemimpin pengganti,” kata Mohammad Noer, yang juga aktifis WAMY itu (World Assembly of Muslim Youth).

Dalam kesempatan ini, Mohammad Noer menantang Pemuda Al-Irsyad untuk menggelar training-training bagi angkatan muda Irsyadiin, dan ia siap membantu pencarian dananya dari berbagai sumber.

“Saya dapat membantu Pemuda dalam soal perkaderan ini. Kalau selama ini masalahnya adalah dana, maka saya tantang pemuda! Siapkan proposal perkaderan tingkat nasional, dengan peserta sekitar 50 orang, insya Allah saya bantu pencarian dananya,” katanya bersemangat.

Semoga ini menjadi awal dari sebuah harapan besar, untuk merajut masa depan yang gemilang. Amiiin!

Ilaal Amaami ya Syababul Irsyad!

(MA)

Al-Irsyad Bandung Mensikapi Pilkada

Pilkada kota Bandung yang akan kita jalani dalam mulai bulan ini seharusnya mengambil contoh dari Pilgub yang baru lalu. Masih banyaknya warga masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya harus menjadi bahan evaluasi bersama, apakah memang tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah, atau memang proses administrasi dan pendataan yang tidak baik, oleh karena itu peran KPU harus dituntut maksimal agar seminimal mungkin warga yang tidak menggunakan hak pilihnya. Untuk warga Al-Irsyad pada khususnya dan masyarakat kota Bandung pada umumnya kami himbau dapat memanfaatkan kesempatan pertama Pilkada kota Bandung yag dipilih langsung oleh rakyatnya, gunakan hak pilih secara benar dan bertanggung jawab.

Pemimipin Kota Bandung ke depan mempunyai tugas berat, karena benar-benar harus membawa aspirasi Ummat, mempunyai banyak pekerjaan rumah yang tidak ringan dengan segala permasalahan yang ada, untuk itu dibutuhkan pemimpin yang benar-benar Amanah, memperhatikan kepentingan Ummat, membawa kota Bandung bersih dari segala bentuk-bentuk kemaksiatan, serta membersihkan mental-mental Birokrat dari segala bentuk kecurangan dan memperkaya diri sendiri, sehingga pada akhirnya masyarakat dapat menikmati haknya secara adil dan dapat menunaikan kewajibannya secara benar dan tanpa paksaan.

Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai salah satu ormas Islam yang tidak melakukan politik praktis secara langsung tidak akan pernah berafiliasi dengan Partai Politik manapun, akan tetapi bukan berarti Al-Irsyad tidak peduli dengan situasi politik yang berkembang di masyarakat. Secara Organisasi kita mempunyai tujuan yang jelas dalam bidang Dakwah, Pendidikan, dan Sosial, sehingga dalam perjuangannya kita akan melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam berbagai bidang garapan baik secara pribadi maupun berjamaah dengan masyarakat yang mempunyai aspirasi dan perjuangan yang sama.

Dimanapun aktivitasnya, kita tetap meminta warga Al-Irsyad selalu konsisten dengan perjuangan Dakwahnya, sehingga apabila secara pribadi dia akan menjadi pejabat Publik, kita tidak akan menolaknya, akan tetapi tidak atas nama Al-Irsyad, dan diharapkan dia tetap konsisten untuk berada pada jalan Dakwah nya, baik dia sebagai anggota Legislatif maupun Eksekutif. Begitu pula sebaliknya dalam menilai calon anggota Legislatif dan Eksekutif yang berkembang di masyarakat, dihimbau Warga Al-Irsyad tidak berpihak kepada Pejabat-pejabat Publik yang tidak mempunyai keberpihakan kepada Dakwah Islam. Dengan memegang prinsip tersebut, insya Allah Rahmatan Lil Aalamin akan kita capai. Dengan berbekal kepada Ridho Allah, maka yang merasakan nikmatnya tidak cuma Umat Islam akan tetapi juga Umat non Islam, akan tetapi sebaliknya apabila kita membiarkan dan tidak peduli dengan segala kecurangan, ketidak adilan, dan kemaksiatan yang berkembang, maka kerusakan akan Alloh timpakan kepada semua masyarakat, termasuk Umat Islam didalamnya, Naudzu Billahi min Dzalik.

 Bandung, 19 Juni 2008

 Ir. Husein Abud Attamimi (Ketua Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung)

Tanggapan Al-Irsyad Bandung tentang Ahmadiyah dan Penyelesaiannya

1. Perlu disosialisasikan oleh aparat kepolisian dan penegak hukum bahwa kasus JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia) adalah “MURNI” permasalahan internal Umat Islam, dan tidak  terkait dengan permasalahan agama lain, apalagi permasalahan kebebasan beragama. Langkah ini perlu dilakukan agar permasalahan tidak makin meluas, dan fihak-fihak yang tidak   terkait langsung terutama dari luar Umat Islam tidak turut campur dalam urusan tersebut.

2. Permasalahan JAI, tidak ubahnya sama dengan permasalahan “penodaan suatu agama (agama Islam)” yang telah terjadi sebelumnya di Indonesia (kasus Nabi palsu, dll), sehingga penyelesaiannya cukup dilakukan antara Umat Islam dengan Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum, tidak terkait dengan kebebasan beragama, apalagi HAM.

3. Apabila semua bisa memahami point satu dan dua tersebut dengan benar dan arif, harusnya tidak perlu ada ‘tindak kekerasan’ terhadap fihak tertentu. Peristiwa bentrokan massa yang terjadi belakangan ini lebih banyak dikarenakan permasalahan JAI sudah dibahas “terlalu luas”, keluar dari batas-batas yang disebutkan di atas, dan Pemerintah tidak bertindak cepat.

4. Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum harusnya tidak membiarkan permasalahan JAI berlarut-larut. Kalau kasus-kasus penodaan agama Islam sebelumnya bisa diselesaikan secara cepat, kenapa tidak permasalahan JAI diselesaikan dengan cara yang sama dan cepat, apalagi Pemerintah (diwakili oleh Bakorpakem) sudah melihat langsung di lapangan, menanyakan langsung kepada anggota-anggota JAI, serta telah menyimpulkan bahwa apa yang telah disampaikan secara tertulis oleh JAI tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta merekomendasikan pembubaran Ahmadiyah, ditambah dengan masukan dari MUI dan Ormas-ormas Islam, sehingga harusnya Pemerintah dan Aparat Penegak hukum tidak perlu lagi menunda Keputusan mengenai JAI, mengambil keputusan cepat untuk membubarkan atau menutup JAI.

5. Meminta kepada Aparat Penegak Hukum bertindak adil dalam menyelesaikan bentrokan massa di Monas beberapa waktu yang lalu dengan memanggil semua unsur yang terlibat bentrokan, baik dari FPI maupun AKKBB, sehingga terlihat jelas akar permasalahannya, dan masyarakat tidak terlalu gegabah mendeskriditkan salah satu fihak.

Bandung, 06 Juni 2008

Husein Abud Attamimi (Ketua Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung)

FLP Kids di SD Al-Irsyad Purwokerto

Anda ingin anak Anda yang masih sekolah dasar pintar menulis? Masukkan saja ke SD Al-Irsyad Purwokerto!

Saran itu tidak berlebihan, dan bukan juga guyonan semata. Tapi memang realitanya berkata demikian. Murid-murid SD Al-Irsyad di Purwokerto rajin dibekali ilmu dan tips untuk bisa menulis atau mengarang oleh guru-guru mereka.  Hingga banyak tulisan ana-anak itu yang mampu menembus media nasional, dan memenangi penghargaan yang bersifat nasional. Bahkan SD Al-Irsyad 02 Purwokerto kini sedang menyiapkan klub jurnalistik bagi para siswanya.

Sebut saja nama Bayu Rizki Ananda (11 tahun), anak kelas V SD Al-Irsyad 02. Ia mampu meraih juara pertama dalam Lomba Menulis Hemat BBM tingkat nasional, versi Majalah Mentari. Anak dari pasangan Ari Suyono dan Eko Sri Rahayu ini juga meraih juara kedua Lomba Menulis Lingkungan Hidup tingkat nasional, yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Untuk semakin menggerakkan antusiasme dan mengasah kepiawaian menulis para murid, SD Al-Irsyad 02 Purwokerto bulan Maret lalu menggelar launching Forum Lingkar Pena (FLP) Kids di sekolah itu. Dalam acara yang diramaikan dengan bazzar, lomba dan talkshow ini hadir pula Afifah Afra Amatullah, koordinator FLP Jawa Tengah.

FLP adalah forum para penulis remaja dan muda Islam, yang anggotanya menyebar dari Aceh sampai Papua, bahkan sudah merambah ke Mesir dan beberapa negara lain. Afifah Afra Amatullah sendiri seorang penulis muda yang cukup produktif, dimana beberapa karya novel dan kumpulan cerpennya sudah diterbitkan oleh sejumlah penerbit nasional.

Launching FLP Kids ini merupakan tanggapan FLP Jawa Tengah atas prestasi menulis murid SD Al-Irsyad 02 Purwokerto. Dalam pembukaan talkshow, Afifah menyatakan kekagumannya pada semangat menulis murid Al-Irsyad.

“Saya menyaksikan di sini banyak anak yang kemampuan menulisnya sudah sampai tingkat nasional, bahkan banyak tulisan SD ini mampu menembus surat kabar nasional pula. Sayang sekali bila prestasi ini tidak difasilitasi lebih jauh,” kata Afifah, seperti dikutip Majalah Adzkia, milik Lajnah Pendidikan Al-Irsyad Purwokerto.

Menimpali itu, Kepala Sekolah SD Al-Irsyad 02 Suhari Umar mengatakan, “Saat ini sekolah sudah menyiapkan klub jurnalistik, namun masih diperlukan ruang yang lebih luas untuk menyalurkan kreatifitas mereka.”

Kegiatan FLP Kids ini direncanakan diadakan setiap minggu dengan pengawasan dari FLP Purwokerto. Selain itu, sekolah juga sudah menyiapkan penerbitan khusus untuk memuat karya-karya murid.

“Sedapat mungkin sekolah memaksimalkan program ini. Trainer kita siapkan langsung dari FLP,” kata Suheri.*

PP Al-Irsyad: Umat Jaga Kesantunan, Ahmadiyah Harus Dilarang

Al-Irsyad Online: Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah meminta umat Islam Indonesia bisa tetap berlaku arif dan santun selama aksi menuntut pelarangan aliran Ahmadiyah dari ajaran Islam yang suci. “Umat harap menjaga sikap agar tidak jatuh dalam tindakan anarkis yang bisa merusak citra Islam dan kaum muslimin,” kata H. Abdullah Djaidi, ketua umum PP Al-Irsyad pada Al-Irsyad Online di Jakarta, hari ini (21/4).

Ketua Umum menegaskan, umat Islam tetap harus terus menjunjung akhlaqul karimah dalam setiap tindakan membela keagungan Islam, karena akhlak yang baik itu merupakan ajaran dan wasiat Nabi saw. yang wajib kita junjung tinggi-tinggi dalam keadaan apapun. Jangan ada kekerasan, termasuk penganiayaan dan perusakan atas warga penganut Ahmadiyah dan simbol-simbol mereka.

Kepada para pemimpin umat, Abdullah Djaidi juga meminta agar menjauhkan diri dari retorika-retorika yang bisa membakar umat untuk bertindak anarkis. “Itu justeru tindak kondusif bagi upaya kita untuk melarang Ahmadiyah secara hukum,” katanya.

Menurut Abdullah Djaidi, PP Al-Irsyad sendiri sudah sejak tahun 1992 menyatakan bahwa aliran Ahmadiyyah bertentangan dengan aqidah Islamiyah dan kelompok itu tak bisa dikatakan sebagai seorang muslim. Dan bersama ormas-ormas Islam lainnya PP Al-Irsyad berulangkali meminta ketegasan pemerintah RI untuk melarang aliran yang menyebut pendirinya (Mirza Ghulam Ahmad) sebagai nabi baru setelah Muhammad saw. itu.

“Sampai saat inipun kami tetap mendesak pemerintah RI untuk segera membubarkan dan melarang aliran Ahmadiyyah tersebut di seluruh bumi persada Indonesia yang kita cintai ini,” kata Abdullah Djaidi.

Al-Irsyad sendiri tak hanya minta pelarangan terhadap aliran itu, tapi juga siap membantu membina para pengikut Ahmadiyah yang mau kembali ke jalan yang benar.

Sebagaimana diketahui, sudah lama umat Islam Indonesia meminta pemerintah melarang aliran Ahmadiyah, tapi baru menemukan titik terang setelah beberapa hari lalu Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) mengeluarkan rekomendasi agar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)  menghentikan kegiatannya, karena mereka dilapangan telah ditemukan penyimpangan serius aliran ini dari agama Islam. JAI adalah organisasi induk pengikut Ahmadiyah di Indonesia.*