PP Al-Irsyad Siap Bantu KPK Perangi Korupsi

 Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah siap membantu dan bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ikut menanggulangi akhlak bangsa yang sudah rusak akibat perilaku korup banyak pejabat negara. Sikap yang sama juga diungkapkan oleh Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad.

“PP Al-Irsyad siap membantu dan bekerjasama dengan KPK, sebab apa yang dilakukan KPK sangat baik untuk memperbaiki akhlak bangsa ini yang sudah porak poranda. Suatu bangsa akan jaya bila akhlaknya bagus, dan akan hancur bila akhlaknya hancur,” kata KH. Abdullah Djaidi, ketua umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam silaturahmi dan sosialisasi tugas KPK dengan pengurus PP dan Pemuda Al-Irsyad di Jakarta, 13 Agustus lalu.

Sementara menurut Geis Chalifah, ketua umum PB Pemuda Al-Irsyad, perilaku korupsi para pejabat negeri ini sudah sangat keterlaluan dan harus segera dihentikan dengan cara apapun, termasuk hukuman mati. “Tanpa penegakkan hukum yang keras, gerakan anti korupsi akan sia-sia belaka. Ini karena watak bangsa ini yang sudah rusak, hingga tak takut lagi dengan hukuman yang ringan-ringan saja,” kata Geis yang juga menjadi moderator acara ini bergantian dengan Misyal Bahwal, wakil sekjen PP Al-Irsyad.

Dalam acara yang digelar oleh PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan PB Pemuda Al-Irsyad itu hadir Wakil Ketua KPK, Chandra M. Hamzah, dan Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti. LIMA adalah LSM yang aktif dalam gerakan anti korupsi di Indonesia.

Chandra Hamzah mengawali presentasinya dengan menguraikan lima tugas pokok KPK, yaitu koordinasi, supervisi, penyelidikan sampai penuntutan, pencegahan, dan monitoring. Lima tugas itu bisa juga diringkas menjadi tiga saja, yaitu: supervisi, pendidikan, dan penindakan.

“Jadi kedatangan kami di Al-Irsyad ini adalah dalam rangkas melaksanakan salah satu tugas pokok KPK, yaitu pendidikan,” kata Chandra.

Menurut Hamzah, tugas KPK yang paling utama sebenarnya adalah pencegahan korupsi, sementara kasus-kasus pengungkapan korupsi dan penangkapan itu bukan yang paling penting.

Dalam kesempatan ini Chandra juga menjawab kritik sebagian orang terhadap KPK yang menganggap kinerja KPK dalam mengembalikan uang negara tidak sepadan dengan anggaran yang dialokasikan bagi lembaga ini. Katanya, anggaran KPK untuk tahun 2008 adalah Rp 200 milyar, dan selama tahun ini KPK sudah menyelamatkan uang negara sebesar Rp 400 miliar, dan dalam waktu dekat akan bertambah lagi sekitar Rp 160 miliar. Untuk tahun ini targetnya minimal Rp 500 miliar,” kata Chandra.

“Kita juga melakukan monitoring dan pencegahan, dan itu tidak ternilai dalam menyelamatkan uang negara yang belum dikorupsi,” tambahnya.

Sementara itu, Ray Rangkuti menilai tindakan KPK menangkap para pejabat korup  sebagai shock terapy yang memang diperlukan, guna menimbulkan efek jera bagi para pejabat lainnya. Tapi katanya, KPK masih belum mampu mengubah paradigma pejabat dan penyelenggara negara yang tetap saja korup. “Ke depan KPK harus lebih mengarah pada perbaikan dan pengubahan paradigma ini,” katanya.

Ray Rangkuti yang mantan aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), seperti Chandra Hamzah, dengan miris mengungkapkan bahwa Korupsi di Indonesia saat ini sudah seperti ibadah saja. Orang sudah tidak merasa salah melakukannya, bahkan menaggapnya sebagai bagian dari ritual hidup yang wajib dilakukan. Padahal efeknya sangat menyengsarakan rakyat.

“Selama korupsi terus menjadi bagian dari penyelenggaraan negara, maka rakyat takkan sejahtera,” katanya.

Ray juga menyoroti lemahnya kalangan ulama dalam mengampanyekan gerakan anti korupsi dalam khotbah-khotbah dan ceramah mereka. Maka ia dan kawan-kawan kini mencoba membuat pelatihan khusus bagi para dai dan mubaligh dalam soal pemberantasan korupsi ini. Ia juga berharap Al-Irsyad dan ormas-ormas Islam lainnya bisa duduk bersama membuat modul anti korupsi dari perspektif agama Islam.

Menutup acara ini, ketua umum PP Al-Irsyad H. Abdullah Djaidi menegaskan bahwa para koruptor tidak akan dikabulkan doanya oleh Allah Ta’ala, sebab doa yang dikabulkan hanyalah doa orang-orang yang makan dari rezeki yang halal saja. “Jadi, seseorang doanya akan dikabulkan Allah hanya kalau dia memperbaiki makanannya, hanya makan yang halal saja,” katanya.* (MA)

PP Al-Irsyad Lakukan Safari ke Pantura Jawa Barat

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada tanggal 11 dan 12 Agustus melakukan safari kunjungan kelima cabang di wilayah Pantura Jawa Barat. kelima cabang itu adalah Kota PC Cirebon, PC Indramayu, Haurgeulis, Ciledug, dan terakhir Sindang Laut.

Tim dari Pimpinan Pusat terdiri dari Ridho Baridwan (wakil ketua umum), Sulaiman Ganis (ketua majelis sosial dan ekonomi), Mubarak Nahdi (ketua majelis awqaf dan yayasan), Ahmad Bahanan (wakil sekjen), Thalib Makky (wakil bendahara), dan Zeyd Amar (kepala kantor sekretariat). Turut serta pula Mansyur Alkatiri, sekretaris PB pemuda Al-Irsyad, badan otonom yang baru dideklarasikan di Jakarta  sehari sebelumnya. Mansyur memanfaatkan kunjungan ini untuk mensosialisasikan pembentukan otonomi Pemuda Al-Irsyad kelima cabang yang dikunjungi.

Masing-masing pengurus menginformasikan program kerja PP, terutama di bidang pendidikan, sosial ekonomi, Yayasan, dan organisasi.

Cabang pertama yang dikunjungi adalah PC Haurgeulis, sebuah kota kecamatan di Kab. Indramayu yang berkembang sangat pesat. Cabang ini memiliki sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), SMK Bisnis Manajemen, dan Rumah Sakit yang tengah dikembangkan.

PP diterima oleh tim pengurus PC Haurgeulis yang dipimpin ketuanya Fuad Ali Bajrei. Pertemuan yang diselingi dengan makan siang itu berlangsung di RS Syahid Al-Irsyad Al-islamiyyah.

Dari Haurgeulis rombongan PP menuju ke Indramayu,  bertemu dengan pengurus PC dan Yayasan setempat, termasuk ketua PC Faisal al-Bugri dan ketua yayasan, Muhammad Basamkhah, di sekretariat PC Indramayu. Dilanjutkan dengan peninjauan ke TK dan SD Al-Irsyad setempat.

Malam harinya, rombongan PP Al-Irsyad bertemu dengan pengurus PC dan Yayasan Al-Irsyad Kota Cirebon di kawasan wisata Sangkanurip, diawali dengan makan malam.

Dari PC hadir wakil ketuanya Nasir Baraba dan pengurus lainnya, sedang dari Yayasan hadir ketua dewan pengurus Nabil Bafadhal, dan dari dewan pembina Yayasan hadir Ustadz Cholid bin Zoo dan Hamid Abud Attamimi.

Esok harinya, rombongan PP berkunjung ke cabang Ciledug (Cirebon I) dan Sindanglaut (Cirebon II). Keduanya  memang masuk wilayah kabupaten Cirebon.

Di Ciledug pertemuan dengan pengurus cabang yang diketuai oleh Saleh Bayasut. cabang yang sudah berusia 15 tahun ini memiliki sebuah TK Al-Irsyad yang kondisinya memerlukan bantuan karena kesulitan menambah prasarana bermain anak-anak, hingga TK yang merupakan pionir di wilayahnya itu kini mulai berkurang muridnya, tersedot oleh TK baru yang lebih lengkap sarananya.

Di Sindang Laut (Cirebon II), rombongan PP ditemui lengkap oleh pengurus cabang setempat, yang diketuai oleh  Tolib Bayasut. Cabang ini sudah memiliki TK dan SDIT Al-Irsyad. dan sedang berusaha membangun SMP.

Yang menggembirakan lagi, Tolib Bayasut bahkan siap mewakafkan tanah dan sekolah (TKIT, TPA, dan MDA) milik yayasan keluarganya di karangsembung, ke Perhimpunan Al-Irsyad Sindang laut. Keinginan Tolib Bayasut ini disambut baik oleh PP Al-Irsyad.

“Semoga Allah Ta’ala memberi pahala yang besar kepada keluarga Bapak Tolib ini,” kata Ridho Baridwan, wakil  ketua umum PP, sambil mengucapkan terima kasih.

Setelah acara di Sindang laut, rombongan PP segera meluncur ke Kota Cirebon, meninjau sekolah-sekolah di sana, dari TK sampai Sekolah Menengah Komputer (SMK) Al-Irsyad, yang kini menjadi unggulan utama di Cirebon.* (MA)

Pemuda Al-Irsyad Lahir Kembali

Utama

DEKLARASI OTONOMI PEMUDA AL-IRSYAD

Sebuah sejarah baru telah lahir di lingkungan Al-Irsyad. Setelah dua puluh tiga tahun ditarik masuk dalam struktur Perhimpunan Al-Irsyad, kini Pemuda Al-Irsyad kini kembali menjadi otonom.

Dengan status otonom ini, Pemuda Al-Irsyad bisa bergerak lebih bebas berkiprah dan mengatur rumah tangganya sendiri, seperti suasana di masa lalu, sebelum Muktamar Al-Irsyad 1985.

Status otonomi Pemuda Al-Irsyad tersebut lahir melalui DEKLARASI  OTONOMI, yang dilakukan Majelis Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di sekretariat Pimpinan Pusat Al-Irsyad, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan, pada Ahad 10 Agustus 2008. Dengan status barunya itu, maka Majelis Pemuda dan pelajar Al-Irsyad, organ pemuda di lingkungan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, berubah menjadi Pengurus Besar (PB) Pemuda Al-Irsyad. Sementara lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad di daerah, akan keluar dari struktur Pengurus Cabang Perhimpunan di daerah mereka, dan berubah menjadi Pengurus Cabang (PC) Pemuda Al-Irsyad.

Dalam acara deklarasi yang diikuti sekitar 40 anak muda Al-Irsyad yang masuk dalam kepengurusan PB Pemuda Al-Irsyad, hadir Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diwakili oleh Ridho Baridwan SH dan Dr. Mohammad Noer, selaku wakil ketua dan sekretaris jenderal

Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Hadir pula pengurus Majelis Wanita dan Puteri Al-Irsyad, serta utusan dari lajnah-lajnah Pemuda dan Pelajar Al-Irsyad se Jabodetabek.

Menurut Ketua Umum PB Pemuda Al-Irsyad Geis Chalifah, otonomi Pemuda Al-Irsyad ini merupakan keniscayaan sejarah, mengingat besaran tanggung-jawab dan kondisi kekinian. “Lembaga otonom dalam Perhimpunan saat ini mengalami kelemahan daya aktifitas setelah sekian tahun direduksi keberadaannya menjadi majelis. Dan itu berimbas besar pada kekosongan satu generasi di tubuh Al-Irsyad,” kata Geis Chalifah dalam pidato deklarasi itu.

Geis juga memaparkan tantangan berat yang sedang dihadapi oleh ormas-ormas pemuda saat ini, karena ormas-ormas itu tidak mampu memnberi jawaban atau solusi memadai bagi persoalan anak muda saat ini. “Maka PB Pemuda Al-Irsyad harus memahami dengan jelas arah kaum muda saat ini dan trendnya ke depan, lalu membuat daftar acuan rencana agar nyambung dengan realitas baru itu,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum PP Al-Irsyad Ridho Baridwan berharap setelah Pemuda Al-Irsyad terlepas dari struktur Perhimpunan maka akan terjalin sinergi yang baik di antara Perhimpunan dan Pemuda.

“Semoga kita bisa bekersama dalam membangun Al-Irsyad menuju masa depan yang gemilang,” katanya.

Dalam pidato tausiyahnya, Dr. Mohammad Noer, sekretaris jenderal PP Al-Irsyad berharap kehadiran Pemuda Al-Irsyad yang otonom ini bisa mengatasi krisis kader yang sangat kronis di tubuh Al-Irsyad.

“Memang krisis seperti itu terjadi di semua organisasi, tapi di Al-Irsyad stadiumnya paling tinggi. Di cabang-cabang, krisis minimnya kader ini sangat terasa. Kita sulit mencari pemimpin pengganti,” kata Mohammad Noer, yang juga aktifis WAMY itu (World Assembly of Muslim Youth).

Dalam kesempatan ini, Mohammad Noer menantang Pemuda Al-Irsyad untuk menggelar training-training bagi angkatan muda Irsyadiin, dan ia siap membantu pencarian dananya dari berbagai sumber.

“Saya dapat membantu Pemuda dalam soal perkaderan ini. Kalau selama ini masalahnya adalah dana, maka saya tantang pemuda! Siapkan proposal perkaderan tingkat nasional, dengan peserta sekitar 50 orang, insya Allah saya bantu pencarian dananya,” katanya bersemangat.

Semoga ini menjadi awal dari sebuah harapan besar, untuk merajut masa depan yang gemilang. Amiiin!

Ilaal Amaami ya Syababul Irsyad!

(MA)