Pemerintah Hanya Akui Al-Irsyad Yang Disahkan Mahkamah Agung

JAKARTA — Konflik berkepanjangan agaknya masih menyisakan keraguan di kalangan sebagian anggota Al Irsyad Al Islamiyyah. Buktinya pertanyaan tentang bagaimana status pihak yang kalah masih mengemuka dalam Muktamar Al Irsyad Al Islamiyyah yang ke-38 yang digelar di Jakarta sejak tanggal 6 hingga 10 September ini.

Dalam ceramah yang diberikan oleh Direktur Pengembangan Nilai-Nilai Kebangsaan, Ditjen Kesbangpol, Depdagri, Suprapto, pada Jumat kemarin (8/9), pertanyaan tersebut mengemuka dari salah seorang muktamirin. Namun dengan tegas Suprapto menyatakan bahwa pemerintah hanya mengakui Al Irsyad yang resmi diputuskan oleh pengadilan.

”Pemerintah hanya mengakui ormas yang sudah dinyatakan menang oleh Mahkamah Agung, dalam kasus ini, karena Al Irsyad ini yang dimenangkan, maka itu pulalah yang diakui keberadaannya oleh pemerintah,” tegasnya seusai membacakan ceramah tertulis Mendagri M Ma’ruf yang bertajuk ‘Perlunya Revisi UU Keormasan di Era Reformasi’.

Pernyataan ini mendapat respons positif dari sejumlah pengurus Al Irsyad Al Islamiyyah. Jawaban yang disampaikan Suprapto ini menepis keraguan sejumlah anggota Al Irsyad di daerah yang mempertanyakan status pihak yang kalah dalam banding di Mahkamah Agung. ”Pernyataan inilah yang terpenting untuk menepis keraguan sebagain kalangan,” ujar Ketua Umum Al Irsyad Al Islamiyyah, Hisyam Thalib.

Sementara itu sebagai organisasi pembaru ajaran Islam Al Irsyad berjanji akan terus berkhidmat memajukan pendidikan. Apalagi secara faktual masih banyak bagian dari umat Islam belum mendapat pelayanan pendidikan yang memadai. ”Seusai dengan cita-cita pendiriannya yang digagas Syeikh Ahmad Surkati,” kata Ketua Majelis Pendidikan PP Al Irsyad, Dr. Mohammad Noer, di sela muktamar.

Menurut Noer, memang harus diakui meski selama ini Al Irsyad sudah mempunyai sekitar 140 sekolah dari berbagai strata pendidikan, namun kualitasnya memang belum memuaskan. Bila diukur, maka peringkat kualitas institusi pendidikan yang dikelolanya masih berada pada tataran kualitas menengah ke bawah. Alhasil mau tidak mau bila ingin memberikan kontribusi terhadap umat, maka kualitas pendidikan perhimpunan ini harus dibenahi secara lebih serius lagi.

”Kendala banyak. Mulai dari masigh lemahnya sumber daya manusia dari para pendidikan yang mengajar di insitusi Al Irsyad. Ini terjadi karena selama ini AL Irsyad tidak mendidik sendiri para pengajar di sekolahnya. Selain itu juga soal sarana dan prasana pendidikan yang memadai. Kualitas gedung sekolah Al Irsyad misalnya masih banyak yang memprihatinkan,” kata Mohammad Noer lagi.

Pada sisi lain, lanjut Noer lemahnya kualitas pendidikan di sekolah Al Irsyad disebabkan juga belum maksimalnya kepedulian para anggota Al Irsyad itu sendiri. Data menunjukan bahwa 90 persen guru yang mengajar di sekolah ini bukan hasil pendidikan Al Irsyad. Yang lebih memprihatinkan 80 persen `orang’ AL Irsyad tidak menyekolahkan anak-anaknya di lembaganya sendiri.

‘Belum lagi soal lemahnya pendanaan pendidikan di Al Irsyad. Adanya hal inijelas akan berimbas kepada kaulitas pelayanan pendidikannya. Sekolah Al Irsyad banyak yang masih tidak nyaman untuk belajar. Jadi soal dana ini juga harus secara bertahap harus bisa dipecahkan. Orang Al Irsyad sendiri kini juga harus didorong agar lebih peduli kepada institusi pendidikannya,” tegas Mohammad Noer.

Tantangan lain adalah kurikulum yang belum jelas sehingga hanya menjadi kepanjangan dari yang disusun pemerintah. Akibatnya, Al Irsyad kehilangan ciri khasnya, termasuk hilangnya kemampuan berbahasa Arab serta penyerapan pengajaran akhlak keagamaan. Al Irsyad harus mengejar ketertinggalan dalam pendidikan karena hal itu serius.

MPR Dukung Usulan Pahlawan Nasional Bagi Syekh Ahmad Surkati

JAKARTA – Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah berharap pendiri organisasi ini, Syekh Ahmad Surkati, dijadikan pahlawan nasional. Dalam Muktamar ke-38 di Jakarta kemarin, permintaan untuk mengusulkan tokoh Islam Indonesia asal Sudan itu menguat. Tak hanya datang dari internal organisasi tapi juga dari luar, termasuk Wakil Ketua MPR RI AM Fatwa.

Menurut Fatwa, Syekh Ahmad Surkati memiliki peranan luar biasa dalam membangun gerakan pemurnian dan pembaruan dan pemurnian ajaran Islam. Ia juga termasuk tokoh luar Indonesia yang ikut mengobarkan semangat melawan penjajahan Belanda. “Karena itu sangat wajar jika Beliau diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.”

Karena itu, lanjutnya, sangat wajar jika Al Irsyad Al Islamiyyah menuntut hak politik atas pendirinya tersebut kepada pemerintah. Menurut Fatwa, jangan sampai ada perasaan karena Syekh Ahmad Surkati bukan karena orang yang lahir di Indonesia lalu dia tidak berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya. “Tidak boleh ada pemikiran seputar itu, yang penting adalah dia berjasa,” katanya.

Hal serupa juga diusulkan oleh Tarmizi Taher. Menurutnya, sebagai sosok yang sangat memberikan pengaruh ke-Islaman di negeri ini, sosok Syekh Ahmad Surkati kurang di kenal di dalam negeri. “Padahal beliau sangat berjasa, namun sayangnya agak terlupakan,” ungkapnya. Karena itu, Tarmizi meminta sosok ulama ini disosialisasikan, salah satunya lewat penetapannya sebagai pahlawan nasional.

Sementara itu, menurut Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Ir. Hisyam Thalib, sebenarnya usulan agar Syekh Ahmad Surkati ini dijadikan pahlawan nasional sudah mengemuka dalam beberapa Muktamar sebelumnya. Bahkan sudah diajukan ke DPR setelah Muktamar ke-37 lalu di Bandung. “Namun hingga kini belum ada kelanjutan kabarnya,” katanya.

Dengan adanya dukungan dari pihak luar Al-Irsyad, kata Hisyam, semakin meneguhkan pengurus Al-Irsyad untuk memperjuangkan hal ini. “Insya Allah setelah ini kami akan perjuangkan lagi agar keinginan ini bias dilaksanakan,” katanya.

Al-Irsyad memang tak bisa dilepaskan namanya dari sosok sang pendiri Syekh Ahmad Surkati. Bahkan bukan hanya lokal, sosok alim ulama kelahiran Sudan ini juga memberikan pengaruh signifikan dalam perjuangan bangsa ini.*

(Sumber: Republika, Jumat, 8 September 2006)

Kepengurusan Baru Fokus Pada Pengkaderan

JAKARTA – Perselisihan internal yang berlangsung selama 9 tahun menyisakan banyak persoalan di dalam tubuh Al Irsyad Al Islamiyyah. “Bukan hanya hancur, tapi kami porak poranda,” ungkap Ketua Umum Al Irsyad Al Islamiyyah, Ir. Hisyam Thalib, usai acara pembukaan Muktamar di Jakarta, Kamis (7/9).

Selama periode tersebut, kata Hisyam, kepengurusan yang terpecah berdampak luas pada seluruh perjuangan Al Irsyad Al Islamiyyah. Semua asset milik institusi ini tersedot keluar secara percuma, baik materi maupun non-materi. Selain itu, institusi pendidikan kebanggan Al-Irsyad tidak terperhatikan sehingga berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, katanya, dalam dua periode mendatang diharapkan pengurus baru yang akan dipilih dalam muktamar ini memfokuskan diri pada gerakan kaderisasi. “Konflik bukan hanya membuat kita vakum, namun yang lebih parah lagi, kita jadi tidak bisa menciptakan kader-kader baru,” katanya.

Padahal, jelasnya, kader-kader inilah yang menjadi tulang punggung masa depan Al Irsyad Al Islamiyyah. Hisyam menambahkan, kaderisasi yang akan dilakukan mencakup dua hal, yaitu pendidikan atau dakwah dan manajerial.

Selain untuk menghindari perpecahan dengan memperkuat barisan, Hisyam menyatakan kaderisasi ini dilakukan karena Al Irsyad bertekad untuk bangkit kembali. “Apalagi kami ingin membangkitkan dan memajukan kembali ruh perjuangan Al Irsyad, yaitu pendidikan,” katanya seraya menegaskan muktamar kali ini sebagai ajang kebangkitan institusi yang didirikan Syekh Ahmad Surkati ini.

Sementara upaya yang dilakukan pascakonflik, kata Hisyam, adalah dengan berusaha merangkul kembali anggota yang terpecah. “Kami panggil mereka pulang, dan untuk muktamar ini, kami juga sudah mengundang mereka,” katanya. Sayangnya, lanjut Hisyam, hanya segelintir anggota yang bersedia dating. “Namun intinya kami akan menerima mereka kembali sepanjang mereka bersedia,” lanjutnya.

Hisyam menyatakan harapannya di akhir masa kepengurusannya agar semua anggota Al Irsyad Al Islamiyyah bisa belajar dari kegagalan ini. “Kita majukan kembali Al Irsyad Al Islamiyyah, demi kebangkitan umat,” katanya seraya menambahkan bahwa institusinya tetap fokus pada pendidikan. Al-Irsyad akan melakukan pendidikan yang bermartabat demi generasi berikutnya yang juga bermartabat.*

(Sumber: Republika, Jumat, 8 September 2006)

Press Release Muktamar Ke-38

PRESS RELEASE

MUKTAMAR KE-38 PERHIMPUNAN AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH Di Buperta, Cibubur, 7-10 September 2006

“DENGAN KESATUAN DAN PERSATUAN MENUJU KEBANGKITAN
AL-IRSYAD”

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah akan menyelenggarakan Muktamar ke-38 di Jakarta, pada 7 – 10 September 2006. Bertempat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur. Muktamar rencananya dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga akan membuka dan memberi nasihat-nasihat kepada para muktamirin. Sedang penutupan Muktamar insya Allah akan dilakukan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Muktamar sebelumnya yang dilangsungkan di Bandung, dibuka secara resmi oleh Presiden yang lalu di Istana Negara, pada 3 Juli 2000.

Muktamar mendatang diharapkan membawa angin segar bagi Perhimpunan yang sudah berusia 92 tahun ini, sebab Muktamar dilangsungkan setelah lahirnya Keputusan Mahkamah Agung pada April 2005 lalu. Keputusan MA itu menolak kasasi yang diajukan oleh sekelompok orang yang berusaha mengacau Perhimpunan Al-Irsyad itu. Keputusan MA itu sekaligus menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Al-Irsyad yang sah adalah PP yang dipimpin oleh Ir. Hisyam Thalib, yang dipilih oleh Muktamar ke-37 di Bandung, dan yang punya kesinambungan dengan muktamar-muktamar terdahulu. Dengan demikian Muktamar Al-Irsyad ke-38 ini merupakan momentum yang membuktikan bahwa Al-Irsyad SUDAH TIDAK PECAH LAGI.

Keputusan Mahkamah Agung merupakan ketentuan hukum yang telah berlaku tetap. Putusan tersebut membawa implikasi positif bagi Perhimpunan secara umum, yaitu BERSATUNYA KEMBALI cabang-cabang Al-Irsyad ke dalam tubuh Perhimpunan yang sah. Para aktifis dan simpatisan yang selama konflik terbelah dalam kubu pro dan kontra, serta yang memilih bersikap netral, kini juga sudah mengubah posisi menjadi MENDUKUNG Pimpinan Pusat yang sah. Mereka semua itu lah yang berperan besar dalam pelaksanaan Muktamar ke-38 ini.

Untuk menyambut semangat baru ini, maka Muktamar kali ini mengambil tema “DENGAN KESATUAN DAN PERSATUAN MENUJU KEBANGKITAN AL-IRSYAD.” Dengan tema ini, semangat rekonsiliasi dan persatuan diharapkan bisa lebih dominan di arena Muktamar dan dalam aktifitas Perhimpunan Al-Irsyad ke depan.

Muktamar ke-38 ini seharusnya dilangsungkan pada tahun 2005, sesuai amanat Muktamar ke-37 lalu (Bandung), namun karena permasalahan internal, terutama berlarut-larutnya proses peradilan untuk menentukan Pimpinan Pusat Al-Irsyad yang sah, maka pelaksanaannya mundur satu tahun. Dan ini sudah disetujui serta di tetapkan dalam Rapat Pimpinan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diikuti oleh seluruh Pimpinan Wilayah yang ada, di Jakarta pada Januari silam.

Agenda Muktamar:

Muktamar Al-Irsyad kali ini akan mengagendakan usulan perubahan struktur Perhimpunan guna menjawab tantangan zaman. Antara lain usulan pembentukan Dewan Pakar, yang akan diisi oleh para pakar yang berasal dari keluarga besar Al-Irsyad, termasuk diantaranya beberapa nama tokoh nasional.

Juga rencana untuk memperkuat Dewan Istisyariah, terutama merevitalisasi Komisi Fatwa di dewan ini. Dengan pembentukan Komisi Fatwa Al-Irsyad, diharapkan Perhimpunan Al-Irsyad bisa lebih berkiprah dalam pemikiran Islam dan menjaga keselamatan spiritual anggotanya dan masyarakat Islam Indonesia, seperti di masa lalu.

Muktamar nanti juga mengagendakan perumusan Program Perjuangan Al-Irsyad, yang meliputi bidang Pendidikan, Dakwah, Sosial, Ekonomi, Kesehatan, Organisasi, Kepemudaan dan Kewanitaan.

Khusus untuk Bidang Dakwah, Muktamar akan merumuskan Strategi Dakwah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sejati, yang jauh dari paham-paham kekerasan dan saling menjatuhkan. Perumusan Strategi Dakwah ini makin urgent dilakukan mengingat kian tertinggalnya Dakwah Islam dalam menyikap kemajuan zaman, serta munculnya kelompok-kelompok sempalan yang dakwahnya justeru gemar memperuncing perbedaan di kalangan umat.

Selain itu, Muktamar juga akan mengeluarkan beberapa rekomendasi, yang terkait dengan masalah-masalah internal dan eksternal.

Yang lebih penting lagi, Muktamar ini juga akan memilih ketua umum baru PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk masa bakti 2006-2011. Diantara nama-nama yang beredar dan mulai disebut-sebut oleh beberapa cabang termasuk beberapa tokoh nasional yang merupakan Keluarga Besar Al-Irsyad. Namun semua itu terpulang pada aspirasi muktamirin.

Pemilihan ketua umum ini merupakan hak muktamirin, jadi Pimpinan Pusat tidak ikut mengintervensinya dengan pendropan calon dari atas. Kami mencoba menerapkan sistem botton up.

Terima kasih
PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH
PANITIA PENGARAH MUKTAMAR KE-38 AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Al-Irsyad Gelar Muktamar ke-38

JAKARTA — Memasuki usia yang ke-92, Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyah akan menggelar Muktamar ke-38. Agenda lima tahunan organisasi dakwah islamiyah ini bakal diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, pada 7-10 September mendatang. Muktamar ini rencananya akan dibuka Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
“Muktamar Al-Irsyad ke-38 ini merupakan momentum yang membuktikan bahwa Al-Irsyad sudah tak pecah lagi,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Al-Irsyad, Hisyam Tahlib, kemarin.

Muktamar ini dilangsungkan setelah lahirnya keputusan Mahkamah Agung (MA) pada April 2005. Menurut anggota Panitia Pengarah Muktamar, Zeyd Amar, MA menolak kasasi yang diajukan sekelompok orang yang berusaha mengacau Al-Irsyad.

“Keputusan MA itu sekaligus menyatakan bahwa PP Al-Irsyad yang sah adalah PP yang dipimpin Hisyam Thalib yang dipilih lewat Muktamar ke-37 di Bandung,” papar Zeyd.

Keputusan MA itu, kata dia, membawa implikasi postif bagi perhimpunan ini secara umum. Saat ini, sambung Zeyd, cabang-cabang Al-Irsyad yang tersebar di 140 kota/kabupaten di Tanah Air kembali bersatu. Tak hanya itu, para aktivis dan simpatisan yang selama ini sempat terbelah dalam pro dan kontra juag sudah kembali mendukung PP pimpinan Hisyam.

Muktamar ke-38 mengusung tema “Dengan Kesatuan dan Persatuan Menuju Kebangkitan Al-Irsyad”. “Dengan tema ini, semangat rekonsiliasi dan persatuan diharapkan bisa lebih dominan di arena Muktamar,” imbuh Hisyam.

Menurut Zeyd, guna menjawab tantangan zaman, Muktamar Al-Irsyad akan mengagendakan perubahan struktur. “Nanti akan diusulkan pembentukan Dewan Pakar,” paparnya. Rencananya, Dewan Pakar ini akan diisi para pakar yang berasal dari keluarga besar Al-Irsyad, termasuk beberapa tokoh nasional.”

Muktamar yang akan diikuti perwakilan dari 140 cabang dari 24 provinsi ini juga akan membahas rencana perkuatan Dewan Istisyariah, terutama merevitalisasi Komisi Fatwa di Dewan itu. Muktamar juga akan merumuskan program perjuangan Al-Irsyad yang meliputi berbagai bidang.

“Yang lebih penting lagi, Muktamar ini akan memilih ketua umum periode 2006-2011,” ungkap Zeyd. Saat ini, telah beredar nama-nama tokoh yang akan dicalonkan. Salah satunya, adalah MS Ka’ban.
(hri )

Jawa Barat Kompak Calonkan Al-Ustadz Abdullah Djaidi

Alirsyad.org: Bursa pencalonan ketua umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah masa bakti 2006-2011 kini mulai terbuka. Cabang-cabang Al-Irsyad di Propinsi Jawa Barat telah mengawalinya, dengan mencalonkan secara bulat Al-Ustadz Abdullah Djaidi sebagai ketua umum PP Al-Irsyad mendatang. Keputusan pencalonan ini dilakukan dalam Rakor Pendadaran dan Pembekalan Muktamar ke-38 PW Al-Irsyad Jawa Barat, yang berlangsung di Gedung Sekretariat Al-Irsyad Bandung, pada Senin (21/8) kemarin.

“Peserta Rakor bersepakat akan memilih sosok balon Ketua Umum yang berjiwa dan bertawatak ustadz atau pendidik. Atas dasar pemikiran tersebut maka peserta Rakor PW Jabar memutuskan akan meminta kesedian Al-Ustadz Abdullah Al-Jaidi untuk bersedia dicalonkan sebagai Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah masa bakti 2006-2011,” kata Ketua PW Al-Irsyad Jawa Barat, Geys Ali Afif.

Geys Afif menjelaskan, keputusan untuk memilih seorang sosok ustadz sebagai ketua umum PP Al-Irsyad mendatang itu didukung oleh fakta historis dalam pendirian dan perkembangan Al-Irsyad sendiri. “Seperti diketahui sejak awal pendiriannya dan dalam perkembangan berikutnya, Al-Irsyad senantiasa dipimpin oleh tokoh-tokoh yang memiliki jiwa dan berwatak ustadz. Dengan keustadzan dan ketinggian ilmu (alim) dari ketua umumnya tersebut, gerak langkah maupun jati diri Al-Irsyad sebagai salah satu pelopor organisasi Islam tajdid akan sangat jelas dan disegani, baik oleh kawan maupun lawan,” katanya.

Hal senada juga diterangkan oleh Abdurrahman Silim, sekretaris PW Al-Irsyad Jawa Barat. ” Munculnya pemikiran tersebut, sangat beralasan baik dilihat kesejarahan maupun kebutuhan figur pimpinan Al-Irsyad saat ini. Selain itu sebagai upaya mengembalikan jati diri perhimpunan ini pada takhasus nya sebagai organisasi dakwah dan tarbiyah,” kata aktifis asal Garut ini.

Rakor ini diikuti oleh pengurus PW Al-Irsyad Jawa Barat dan seluruh cabang Al-Irsyad di propinsi ini. Juga hadir sekretaris jenderal (sekjen) PP Al-Irsyad, Geys Amar SH, ketua Panitia Pengarah (SC) dan Panitia Pelaksana (OC) Muktamar ke-38, yaitu Zeyd Amar dan Z. Wennar.

Selain membahas soal calon ketua umum, Rakor tersebut juga membahas draft awal Tata Tertib Muktamar yang dibuat oleh Panitia Pengarah Muktamar, Tatacara Pemilihan Ketua Umum dan Formatur, Anggaran Dasar Perhimpunan, serta rekomendasi soal Proyek Pembangunan Lembaga Pendidikan Al-Irsyad di Cipanas.

Menurut Sekjen PP Al-Irsyad, Geys Amar, pelaksanaan Muktamar ke-38 merupakan momentum penting serta strategis bagi kebangkitan kembali Al-Irsyad. Disisi lain siapapun yang akan memimpin Perhimpunan ini ke depan masih akan dihadapkan kepada tantangan, mengingat lawan-lawan kita boleh jadi masih akan terus melancarkan upaya-upaya busuknya.

Geys Amar mengakui PC-PC di lingkungan PW Jawa Barat selama ini telah teruji komitmen dan dedikasinya dalam menegakkan kalimatul haq atas konflik di tubuh Perhimpunan. “Oleh karena itu, jika sekiranya PC-PC di wilayah Jabar ini memunculkan
kader-kader potensialnya untuk ikut berkiprah dalam bursa pencalonan ketua umum PP Al-Irsyad untuk masa bakti mendatang, maka para muktamirin tidak akan meragukannya dan akan mendapat kepercayaan,” kata Geys. (KH & MA)