Islam diatas Puing Genosida

Islam makin populer di tengah rakyat Rwanda. Ratusan ribu warga Kristen masuk Islam karena ditolong warga Muslim saat pembantaian massal 1994

Alirsyad.org – Adzan shalat Jum’at belum berkumandang, namun muslimin Rwanda sudah memenuhi ruang shalat di masjid utama di Kigali, ibukota Rwanda. Sebagian jamaah yang tidak memperoleh tempat di dalam masjid terpaksa memenuhi ruang parkir, bahkan melebar sampai keluar pintu gerbang masjid.

Pemandangan seperti ini tergolong baru di negara kristen yang pernah tercabik perang saudara ganas dan aksi pembantaian massal (genocide) di tahun 1994, yang menewaskan 800.000 warganya. Sebuah fase kelam dalam sejarah Rwanda yang ternyata menjadi berkah bagi Islam. Pasca perang saudara itu, banyak warga Kristen dan Katolik Rwanda yang menjadi Muslim!

Ya, hampir satu dekade setelah aksi pembantaian ratusan ribu etnis minoritas Tutsi oleh mayoritas Hutu itu, agama Islam justeru semakin populer. Seperti ditulis surat kabar Amerika Serikat, Washington Post, Muslim saat ini meliputi 14 persen dari 8,2 juta warga Rwanda. Ini berarti meningkat dua kali lipat dari saat sebelum genosida tahun 1994!

Kini sudah menjadi pemandangan biasa melihat wanita berjilbab dan laki-laki berpeci khas Muslim Afrika di jalan-jalan kota Kigali. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah Islam dipenuhi murid. “Kami ada dimana-mana,” kata Syeikh Saleh Habimana, pemimpin masyarakat Muslim Rwanda, yang memiliki jaringan masjid di hampir seluruh kota di negara Afrika itu.

Rwanda dikelilingi oleh negara Sudan, Tanzania, dan Uganda, yang memiliki komunitas Muslim cukup besar. Namun agama Islam tidak pernah populer disana sebelum meletus genosida pada 1994.

Pada rentang waktu antara April sampai Juni 1994, milisi dan massa etnis Hutu memburu dan membantai ratusan ribu warga Tutsi. Hanya dalam beberapa bulan, lebih dari separuh warga Tutsi tewas dibantai.

Pembantaian massal itu sangat menohok masyarakat Kristen Rwanda, apalagi terbukti banyak para pastor katolik dan pendeta protestan terkemuka yang terlibat dalam aksi biadab itu. Dan kini mereka harus berhadapan dengan pengadilan kejahatan hak-hak asasi manusia (HAM). Salah satunya adalah Elizaphan Ntakirutimana, kepala Gereja Advent Hari Ketujuh.

Ntakirutimana yang orang Hutu menggiring ribuan warga etnis Tutsi ke gereja nya di provinsi Kibuye dengan janji akan dilindungi keselamatannya. Tapi nyatanya sang pendeta justeru menyerahkan orang-orang Tutsi itu kepada milisi Hutu yang kemudian membantai dengan sadis 7.000-an warga Tutsi itu dalam satu hari.

Pada waktu yang sama, Muslim Rwanda – yang umumnya memiliki ikatan perkawinan baik dengan warga Hutu maupun Tutsi-membuka pintu rumah mereka lebar-lebar bagi warga Tutsi yang ketakutan. Entah kenapa warga Hutu yang Kristen itu tak berani memasuki kampung atau rumah-rumah keluarga Muslim.

Yahya Kayiranga, pemuda Tutsi yang lari bersama ibunya dari ibukota Kigali di awal pembantaian, diselamatkan dirumah keluarga Muslim di kota Gitarama. Disana ia bersembunyi sampai aksi pembantaian itu berakhir. Namun ayah dan pamannya yang tetap tinggal di Kigali, tewas dibunuh.

“Kami ditolong oleh orang yang tidak kami kenal,” kata anak muda berusia 27 tahun itu, seperti dilaporkan surat kabar Amerika lainnya, Chicago Tribune. Ia kecewa berat dengan perilaku para pastor dan pendeta yang justeru ikut terlibat tindakan keji itu. Yahya pun memilih menjadi Muslim di tahun 1996.

“Saya tahu Amerika menganggap Muslim sebagai teroris. Tapi bagi kami orang Rwanda, mereka adalah pejuang pembebas selama masa pembantaian massal,” kata Jean Pierre Sagahutu (37 tahun), warga Tutsi lainnya. Ia yang dulunya Katolik ini memeluk Islam setelah ayah dan 9 anggota keluarganya dibantai oleh warga Hutu yang seagama dengannya.

“Saya ingin menyelamatkan diri ke gereja, tapi tempat itu justeru sangat buruk untuk bersembunyi. Lalu sebuah keluarga Muslim membawa saya, dan menyelamatkan hidup saya.”

Yahya Kayiranga sekarang rajin belajar bahasa Arab dan Al Qur’an di sebuah madrasah di dekat tempat tinggalnya. Ia juga rajin salat lima waktu dan ibadah lainnya. “Awalnya memang berat, tapi setelah dipraktekan secara rutin menjadi mudah, biasa saja,” katanya.

Perkembangan spektakuler Islam ini sangat mencemaskan Gereja Katolik setempat. Menurut beberapa pastur, mereka telah meminta nasihat dari Vatikan untuk menghadapi besarnya arus kepindahan penganut Katolik ke Islam. “Gereja Katolik menghadapi masalah besar setelah genosida. Rasa percaya umat sudah hilang,” kata Jean Bosco Ntagugire, pastur di sebuah gereja di Kigali.

Para pemimpin Muslim Rwanda kini tengah berjuang keras dan menyerukan pentingnya persatuan dan toleransi bagi para mualaf, baik yang berasal dari etnis Hutu maupun Tutsi. Syeikh Saleh Habimana kini salah satu tokoh dalam komisi antar agama yang belum lama ini dibentuk pemerintah Rwanda untuk mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Dan di negara dimana rasa marah dan takut akibat pembantaian massal itu belum hilang benar, masjid-masjid di Rwanda menjadi tempat terjadinya rekonsiliasi secara alami.

“Dalam Islam, Hutu dan Tutsi itu sama,” kata Kayiranga. “Islam mengajarkan pada kami tentang persaudaraan.”

Tak hanya warga Tutsi yang ramai-ramai masuk Islam, warga Hutu juga banyak yang menjadi Muslim. Kalau orang Tutsi masuk Islam karena terkesan dengan umat Islam yang telah menyelamatkan jiwa mereka, orang-orang Hutu masuk Islam karena ingin menghilangkan ingatan penuh kekerasan di masa silam. “Mereka merasa tangan mereka penuh darah, dan mereka memeluk Islam untuk membersihkan diri,” kata Habimana.

Umat Islam Rwanda sebelum ini dianggap sebagai warga kelas dua. Mereka umumnya bekerja sebagai pengemudi taksi dan pedagang, sementara mayoritas warga Rwanda hidup sebagai petani. “Karena kami Muslim maka kami tak dianggap sebagai orang Rwanda,” kata Habimana.

Namun kini setelah agama Islam populer, anggapan seperti itu mulai berubah. “Sekarang kami melihat Muslim sebagai orang yang sangat baik,” kata Salamah Ingabire (20 tahun), yang memeluk Islam di tahun 1995. “Apa yang kami lihat selama masa pembantaian massal itu telah membuat pikiran saya berubah.” (MA)

Amerika mencari Qur’an

Tindak penistaan terhadap kitab suci Al Qur’an yang dilancarkan interogator militer AS di kamp Guantanamo, justeru membuat banyak warga ingin mempelajari Al Qur’an.

Alirsyad.org – Pemerintah Amerika Serikat boleh saja terus melancarkan perang anti-Islam lewat kampanye ‘Perang Melawan Teror’ (War on Terror). Namun rakyatnya justeru makin penasaran untuk mempelajari Islam. Dan kini beribu-ribu warga mencari-cari Al Qur’an. Mereka ingin tahu Islam dari sumber pertamanya, bukan dari mulut para orientalis yang suka memutarbalikkan ajaran Islam.

Antusiasme warga Amerika itu nampak dari banyaknya permintaan akan kitab suci Al Qur’an yang dibagikan secara gratis oleh Council on American-Islamic Relations (CAIR). Lembaga advokasi Muslim terbesar di Amerika ini sekarang sedang melancarkan kampanye bertema “Explore the Qur’an” (Menelaah Al Qur’an) kepada warga non-Muslim, guna mengikis sikap sinisme dan anti-Islam di kalangan warga Amerika yang tidak tahu Islam.

Sudah sekitar 10.000 warga yang memperoleh kitab suci itu secara cuma-cuma, dan mereka kini giat mempelajari Islam. Antusiasme itu justeru didorong oleh tindakan para interogator militer AS di kamp tahanan Guantanamo yang menista kitab suci Al Qur’an, dengan cara merobek, memasukan ke toilet, bahkan mengencinginya di depan para tahanan. Tindakan biadab itu akhirnya diakui oleh Pentagon (kementerian pertahanan AS), setelah sebelumnya mencoba menyangkalnya. said in a press release Monday, June 6.

“Respon yang sangat positif terhadap kampanye ‘Explore the Qur’an’ ini merefleksikan minat warga biasa Amerika untuk memahami Islam dan umat Islam,” kata Nihad Awad, direktur eksekutif CAIR, seperti dikutip Islam-online.net 7 Juni lalu. Menurutnya, dalam hitungan menit, sudah banyak permintaan Al Qur’an gratis itu melalui telpon ke kantor CAIR, menyusul dipublikasikannya artikel kampanye itu di surat kabar nasional USA Today.

Copy Al Qur’an yang dibagikan itu adalah terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris oleh Abdullah Yusuf Ali, yang diterbitkan di Amerika oleh Amana Publications. Dalam paket Al Qur’an itu juga disertai surat yang menjelaskan bagaimana Muslim menghargai kitab suci itu.

Pekerja Amana Publication Mengepak Al Qur’an

“Tuduhan salah dan kurang informasi sering dilancarkan orang terhadap Al Qur’an. Tapi sekarang, insiatif kampanye ini akan meletakkan teks suci ini langsung ke tangan rakyat Amerika, dan mendorong seluruh warga secara sadar menemukan kebenaran melalui Islam,” kata CAIR dalam siaran pers nya.

Militer Amerika pada 3 Juni lalu akhirnya mengakui lima kasus penistaan terhadap kitab suci Al Qur’an oleh para interrogator dan petugas tahanan di pangkalan Angkatan Laut AS, di Guantanamo (Kuba). Tindakan penistaan itu dilakukan untuk ‘meruntuhkan mental’ para tahanan Muslim yang diciduk secara asal-asalan oleh militer Amerika dari Afghanistan, saat AS dan sekutunya menginvasi dan kemudian menduduki negara Islam itu. Kontroversi ini marak menyusul berita di majalah Newsweek edisi 9 Mei, yang memuat kasus memalukan itu. Newsweek mengutip seorang sumber di pemerintah yang tak mau disebut namanya.

Laporan majalah besar Amerika itu telah memancing protes di seluruh Dunia Islam, dan mengakibatkan korban jiwa sampai 15 orang di Afghanistan.

Amnesty International, lembaga pembela hak-hak asasi manusia (HAM) internasional yang berpusat di London, telah menjuluki kamp tahanan Guantanamo sebagai “Gulag baru.” Gulag adalah kamp penjara dan kerja paksa yang dibuat rezim dictator kejam Joseph Stalin di Uni Soviet dulu. Mendapat tuduhan seperti itu, Presiden AS George Bush marah besar, persis seperti para dictator di negara-negara Dunia Ketiga yang tak tahan kritik lembaga HAM.

Kampanye CAIR itu dilakukan terhadap warga Amerika dari berbagai kelompok profesi pekerjaan, agama, etnis, dan sebagainya, termasuk pula perwira polisi, pendeta-pendeta Kristen, dan para professor.

“Ini bukan buku yang menganjurkan kekerasan, tapi justeru memandang dunia ini dalam kaca mata perdamaian,” kata Arthur Ort, salah satu warga yang memperoleh kitab suci Al Qur’an secara gratis.

“Saya ingin membaca terjemahan bahasa Inggris kitab ini untuk diri saya sendiri. Saya akan lihat apa yang dikatakan kitab ini dan apakah saya bisa memahaminya,” tambah Chuck Roth, seorang veteran Perang Vietnam.

CAIR yang diketuai oleh Nihad Awad ini dikenal luas sebagai lembaga pembela hak-hak kaum Muslimin AS. Peran lembaga ini sangat menonjol dalam empat tahun terakhir, pasca Peristiwa 11 September 2001 yang kemudian disusul dengan serangan dan tindak diskriminasi terhadap banyak Muslim di negeri itu menyusul tudingan media massa dan pemerintah Amerika menuding pelaku serangan itu adalah para militan Islam. Sebuah tuduhan yang sampai sekarang belum terbukti. Apalagi enam dari 21 orang yang dituduh Washington sebagai pelaku serangan bunuh diri itu ternyata masih hidup segar bugar di negaranya, Arab Saudi.

Dalam laporannya 11 Mei lalu, CAIR mengungkapkan bahwa tindak kejahatan, diskriminasi dan pelecehan terhadap Muslim di AS selama tahun 2004 telah meningkat sampai 50% dibanding tahun sebelumnya (2003). Minoritas Muslim AS semakin menjadi korban akibat dikeluarkannya UU Patriot (Patriot Act) dan peraturan-peraturan lain dari negara bagian yang diterapkan setelah serangan 11 September.

Pesan kebencian yang sangat lugas misalnya terlihat bulan lalu di sebuah Al Qur’an yang dibeli seorang Muslim. Di sampul bagian dalam kitab suci itu terdapat tulisan dan gambar yang sangat menghina agama Islam. (MA)

Pengumuman Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

PENGUMUMAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Alhamdulilah, setelah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Al Irsyad dari Aceh sampai Papua, Mahkamah Agung Republik Indonesia akhirnya mengeluarkan Putusannya yang BERKEKUATAN HUKUM TETAP tetap dalam perkara No. 1702/K/PDT/2004 Jo. No. 31/PDT/2004/PT. DKI Jo. No. PDT.G/2002/PN.JKT.TIM, antara:

Ir. Farouk Zain Bajabir dan Masdoen Pranoto………
Penggugat/Terbanding/Pemohon Kasasi

M e l a w a n

Pimpinan Pusat Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah………
Tergugat/Pembanding/Termohon Kasasi

Yang amar putusannya berbunyi sebagai berikut:

M E N G A D I L I

– Menolak permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi: 1. Ir. FAROUK ZEIN BAJABIR dan 2. MASDOEN PRANOTO tersebut
– Mengukum para Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)

Adapun Putusan Mahkamah Agung RI tersebut menolak Permohonan Kasasi yang diajukan oleh para Pemohon Kasasi terhadap Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tanggal 28 Maret 2004 No. 31/PDT/2004/PT.DKI yang amarnya berbunyi sebagai berikut:

– Menerima permohonan pemeriksaan dalam tingkat banding dari Kuasa Hukum Pembanding semula
Tergugat Konpensi/Penggugat Rekonpensi :
– Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur tanggal 30 Juni 2003 No. 283/Pdt.G/2002/PN.Jkt.Tim.
dengan

MENGADILI SENDIRI

DALAM KONPENSI:

DALAM PROVISI:
– Menolak permohonan Provisi Penggugat/Terbanding

DALAM EKSEPSI:
– Menolak eksepsi Tergugat/Pembanding

DALAM POKOK PERKARA:
– Menolak gugat Penggugat untuk seluruhnya :

DALAM REKONPENSI:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Pneggugat Rekonpensi untuk seluruhnya;

2. Menyatakan menurut hukum bahwa Tergugat Rekonpensi telah melakukan perbuatan melanggar hukum

3. Menyatakan menurut hukum bahwa keberadaan organisasi Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah berdasarkan MUKTAMAR Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-37 di Bandung cq. Ir. HISYAM THALIB sebagai Ketua Umum yang merupakan kesinambungan serta kelanjutan MUKTAMAR Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-36 di Pekalongan adalah satu-satunya Pimpinan Pusat Al Irsyad Al-Islamiyyah yang SAH.

4. Menyatakan menurut hukum bahwa Muktamar Luar Biasa yang diselenggarakan dengan mengatasnamakan Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah baik di Tawangmangu pada tanggal 16 sampai dengan 17 Oktober 1999 maupun Muktamar Luar Biasa yang diselenggarakan tanggal 22 sampai dengan 23 Maret 2002 adalah cacat hukum, tidak sah dan batal demi hukum dengan segala akibat hukumnya;

5. Menyatakan menurut hukum bahwa Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dengan Ketua Umum Ir. FAROUK ZEIN BAJABIR termasuk semua Personalia dan Fungsionarisnya yang diangkat dan Tawangmangu pada tanggal 16-17 Oktober 1999 maupun Muktamar Luar Biasa di Cilacap pada tanggal 03 sampai dengan Juli 2002 adalah cacat hukum, tidak sah dan batal demi hukum;

6. Menyatakan menurut hukum bahwa proses pemilihan dan pengangkatan Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah yang sah menurut hukum adalah harus berpedoman pada Anggaran Dasar Rumah Tangga Al Irsyad Al Islamiyyah, yaitu diangkat dan dipilih berdasarkan Keputusan Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah, merupakan Institusi yang mempunyai kekuasaan hukum tertinggi;

7. Menyatakan menurut hukum bahwa proses pemilihan dan pengangkatan Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah selalin berdasarkan keputusan Muktamar sesuai dengan Anggaran Dasar Rumah Tangga Al-Irsyad Al-Islamiyyah adalah cacat hukum, tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum;

8. Menghukum Tergugat untuk menyerahkan dalam keadaan baik, Kantor Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang didudukinya dengan segala peralatan investaris PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang terletak di Jl. Kramat Raya No. 25 Jakarta Pusat dan Asset Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah lainnya, selambat-lambatnya dua minggu setelah putusan Pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, apabila diperlukan dengan bantuan POLRI;

9. Menghukum Tergugat untuk tidak menggunakan logo, lambang, kop surat, dan atribut-atribut Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah dengan mengatasnamakan Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk kepentingannya;

10. Menyatakan menurut hukum bahwa Penggugat Rekonpensi adalah satu-satunya Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang sah dan yang berhak menerima bantuan dari Lembaga Islam LAJNA MUSLIM ASIA untuk menyelesaikan pembangunan gedung Islamic Centre di desa Palasari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, sesuai dengan perjanjian kerjasama yang dituangkan dalam Akad Perjanjian Kerjasama tanggal 30 Syawal 1414 / tanggal 17 Februari 1999;

DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI:

– Menghukum Terbanding, semula Penggugat Konpensi/Tergugat Rekonpensi, untuk membayar ongkos perkara yang timbul dari kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding diperhitungkan sebesar Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah);

* Dengan keluarnya Keputusan Mahkamah Agung ini, maka kami memberitahukan kepada segenap warga Al-Irsyad di seluruh Indonesia, dan kepada seluruh umat Islam Indonesia, serta seluruh pejabat negara yang berwenang, BAHWA Pimpinan Pusat Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah hasil Muktamar ke-37 di Bandung c.q. Ir. Hisyam Thalib sebagai Ketua Umumnya, merupakan satu-satunya pihak yang sah menggunakan logo, lambing, kop surat dan atribut serta bertindak mengatasnamakan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

* Kami meminta kepada seluruh warga Al-Irsyad dan umat Islam seluruh Indonesia, serta para pejabat yang berwenang di negara ini untuk tidak berhubungan dan tidak mengakui pihak lain yang mengatasnamakan dirinya sebagai Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

* Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam melalui proses hukum yang cukup lama ini, terutama Tim Penasehat Hukum Al-Irsyad.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan, agar seluruh pihak terkait, instansi-instansi pemerintah, ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat lainnya, donatur, maupun simpatisan baik dalam maupun luar negeri, serta masyarakat luas mengetahuinya dan menjadi maklum

Jakarta, 27 Juni 2005

PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH
Ir. Hisyam Thalib (Ketua Umum) dan Geys Amar, SH (Sekretaris Jenderal)

Catatan: Hurut tebal atau bold adalah dari Tim Penasehat Hukum