Kita Yang Sah, Bung!

Berita gembira itu diterima Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah pada Senin siang, 30 Mei 2005. Tepatnya berupa Relas Pemberitahuan Isi Putusan Mahkamah Agung RI, yang disampaikan Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Detil keputusan baru akan dikirimkan ke masing-masing yang berperkara pada minggu-minggu ini.

Menurut Relas itu, MA telah “MENOLAK permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: Ir. Farouk Zein Bajabir dan Masdoen Pranoto.” MA juga menghukum keduanya untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp500.000,-

Dengan penolakan gugatan kasasi itu, berarti keputusan Pengadilan Tinggi DKI yang berlaku, bahwa Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah yang sah dan legal adalah Pimpinan Pusat hasil Keputusan Muktamar ke-37 di Bandung, dibawah pimpinan ketua umum Ir. Hisyam Thalib. Dengan kata lain, keberadaan mereka yang menamakan diri “Pimpinan Pusat Al Irsyad dibawah ketua umum Farouk Zein Bajabir” adalah LIAR SECARA HUKUM.

Menyikapi keputusan Mahkamah Agung ini, sebagai lembaga tinggi negara dan institusi hukum tertinggi di negara ini, diharapkan seluruh warga Al Irsyad bisa segera menyesuaikan sikapnya. Jangan mau lagi mengikuti dusta dan fitnah yang terus disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, yang hanya mengejar syahwat kekuasaan dan kepentingan pribadi semata. JANGAN Ada Lagi Dusta dan Firnah Diantara Kita.

Mari kita semua, para Irsyadiin merapatkan barisan. Seperi dipesankan Ketua Umum Ketua Umum Ir. Hisyam Thalib, “Kita syukuri keputusan Mahkamah Agung ini. Dan ini merupakan modal untuk membangkitkan Al Irsyad kembali. Mari kita bersatu mengemban amanat yang semapat dinodai dan ditinggalkan oleh sebagian warga,” katanya.

Ucapan terima kasih perlu kita berikan kepada semua pihak yang telah membantu proses hukum yang lama ini. Khususnya kepada Tim Hukum PP Al Irsyad, yaitu Ridho Baridwan SH, Geys Amar SH, dan Asad Baridwan, SH.

Ucapan terima kasih harus juga kita berikan secara khusus kepada tim pembela: Hotma Sitompul SH, Munir SH. (semoga Allah memasukkan almarhum sebagai ahli surga NYA), Sundjono PS, SH, Ruhut Sitompul, SH, Geys Amar SH, dan Mario C. Bernanda SH.

Dan kepada semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Ilal Amaami ya Banil Irsyad!

Pesan Ketua Umum

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulilah, akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan yang haq kehadapan kita semua. Pada 30 Mei 2005, jam 12.00 WIB, Mahmakah Agung RI telah menyerahkan keputusan kasasi resmi kepada tim hukum Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah.

Keputusan yang ditunggu-tunggu selama ini untuk menyatukan kembali warga Al Irsyad yang porak-poranda, kini sudah ada dihadapan kita.

 

Keabsahan Muktamar ke-37 di Bandung telah dinyatakan SAH. Dan satu-satunya Pimpinan Pusat yang berhak mnggunakan nama Al Irsyad Al Islamiyyah dengan segala atributnya adalah kita. Kita syukuri itu semua, dengan cara membangkitkan Al Irsyad kembali. Mari kita bersatu mengemban amanat yang telah dinodai dan ditinggalkan oleh sebagian dari kita. Singkirkan perselisihan yang ada.

ILAL AMAAMI YA BANIL IRSYAAD.

Wassalamu’alaikum warohamatullahi wabarakatuh.

 

Ir. Hisyam Thalib
Ketua Umum PP Al Irsyad Al Islamiyyah

Ada Gejala Fenomena Jungkir-Balikan Fakta Ajaran Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Drs H A Murdjani Sani mengkonstatir belakangan ini ada gejala fenomena menjungkir-balikan fakta, hal tersebut perlu diwaspadai dan dicermati bersama.

Penjungkir-balikan fakta tersebut antara lain seperti terlihat dalam hukum fikih yang seakan mencoba mengubah kelaziman dengan berbagai alasan, lanjutnya saat kuliah subuh di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Jumat.

Salah satu contoh penjungkir-balikan fakta hukum fikih yang cukup menghebohkan dunia Islam ialah pelaksanaan shalat Jumat yang diimani dan khatibnya dari perempuan, sementara jemaahnya ada laki-laki. Ternyata dari hasil investigasi menduga jemaah laki-laki yang ikut shalat Jumat tersebut bukan muslim sejati.

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu mensinyaler pula gejala fenomena penungkir-balikan fakta tersebut juga terlihat dalam berbagai aspek kehidupan lain, dimana ada kecenderungan dari sementara pihak mengatakan yang benar itu salah dan sebaliknya yang salah dikatakan benar.

Kencederungan-kecenderungan memutar-balikan fakta itu nampaknya cuma dalam konteks untuk mengejar kehidupan duniawi semata atau karena pengaruh faham-faham sekuler, dan lupa akan kehidupan yang kekal abadi di alam akhirat kelak.

“Padahal kehidupan bagi seseorang di dunia ini bagaikan musafir, hanya bersifat sementara, sedangkan kehidupan yang permanen, kekal dan abadi adalah di alam akhirat ,” ujarnya.

Dalam kuliah subuh di masjid kebanggaan kaum muslim di Provinsi Kalimantan Selatan tersebut, Murdjani yang sering menulis dan mengisi rubrik keagamaan di koran tersebut, mengajak terhadap sesamanya untuk meneladani Rasulullah Muhammad Saw yang lahir, hijrah dan wafat pada Rabi’ul Awal 14 abad silam.

“Walaupun keteladanan yang diperlihatkan Muhammad Saw pada 14 abad silam, tetapi contoh dan tauladan Rasulullah tersebut masih bisa dipergegangi, baik masa kini maupun akan datang, hingga akhir zaman nanti manakala kita ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan alam yang kekal abadi,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, dia mengungkapkan beberapa contoh tauladan yang ada pada Rasulullah Saw antara lain sikap kesederhanaan, kejujuran, dan kerja keras tanpa meminta belas-kasih atau menggantungkan pada orang lain.

Mengenai kesederhanaan atau kebersahajaan Rasulullah Saw, dia mencontohkan seperti terlihat dari keadaan rumah tangga beginda rasul, yang tidur di atas dipan terbuat dari pelepah korma dan bertikarkan daun pohon tersebut, sehingga dikala berbangun serta mau shalat masih nampak bekas pelepah pohon “tamar” (korma) itu di belakang badan nabi.

Namun ketika Ibnu Mas’ud menawarkan, tempat tidur yang baik, Rasulullah pun menjawab, “kehidupan di dunia ini hanya sementara, yang kekal abadi itu nanti di alam akhirat”.

(media-indonesia.com)

Arab-Amerika Latin Bertemu Kecam Israel

Wakil dari 34 negara di Arab dan Amerika Latin sejak kemarin bertemu di kota Brasilia, Brasil. Salah satu tujuan pertemuan tersebut adalah mengecam tindakan Israel menduduki wilayah Palestina. Pertemuan yang akan berlangsung selama dua hari itu juga membahas kemungkinan kerja sama politik dan ekonomi di antara keduanya.

Pertemuan tersebut dijadwalkan dihadiri juga pemimpin Palestina, Mahmud Abbas. Mesir sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Jazirah Arab mengutus menteri luar negerinya, Ahmed Abul Gheit. Presiden Brasil, Lula da Silva, sebagai tuan rumah, membuka pertemuan yang telah dirancang sejak Januari 2004 melalui serangkaian pertemuan penjajakan itu.

Sumber diplomatik Israel mengakui bahwa pertemuan tersebut memang lebih banyak memberi perasaan simpatik kepada Palestina. Selain soal Israel, pertemuan juga mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mencabut sanksi atas Rusia. Wakil dan para kepala negara yang hadir dalam pertemuan itu juga diarahkan untuk membahas masalah Irak.

Diagendakan, para peserta pertemuan bisa memberi dukungan kepada rakyat Irak untuk melindungi negaranya dari pendudukan pasukan asing. Pertemuan ini menjadi ajang untuk menandingi dominasi AS dan pengaruh kuatnya dalam isu-isu soal Palestina, Irak, dan dunia Arab secara umum. Khusus soal Israel, seorang wartawan independen asal AS, Alison Weir, menyebut bahwa televisi AS pada umumnya memang bias dalam menampilkan isu Israel. Menurut survei dia, televisi AS memberi tempat yang lebih menguntungkan Israel dan merugikan Palestina.

“Kami belum dapat menemukan dasar-dasar pembenaran dari ketidakseimbangan pemberitaan dan peliputan berita-berita itu,” kata Weir. Menurut dia, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab biasnya pemberitaan itu. Di antaranya adalah kuatnya pengaruh kampanye pihak Israel, berita ditulis wartawan yang berkantor di Israel, pers AS sering tunduk pada tekanan Israel, serta sebagian pengelola media memang pro Israel.
(republika.co.id)

Penghinaan Al-Qur’an di Penjara Guantanamo

Pemerintah Pakistan tersinggung perlakukan personil militer AS di penjara Guantanamo yang menghina Al-Qur’an dengan cara membuangnya di toilet

Jika di Indonesia ramai Al-Qur’an bergambar foto Bupati Indramayu dan shalat dua bahasa, di Pakistan lain lagi. Pemerintah negara itu terkejut dengan edisi baru majalah Newsweek keluaran Amerika yang memuat berita dugaan penghinaan terhadap Al-Qur’an.

Pemerintah Pakistan menyatakan kekhawatiran mendalam atas dugaan penistaan kitab suci Al-Qur’an di penjara Guantanamo setelah majalah tersebut memuatnya.

Dalam edisi terbarunya, Newsweek menyebut sejumlah personil tentara AS telah membuang kitab suci umat Islam itu ke dalam toilet di penjara Guantanamo.

Juru bicara kementerian luar negeri Pakistan, Jalil Abbas Jilani mengatakan kepada kantor berita AFP mengenai keberatan serta perlakuan yang disayangkan kepada para tahanan di Teluk Guantanamo.

Menurut Jilani, laporan tersebut mengejutkan para penganut agama di seluruh dunia.

“Pemerintah Pakistan mengutuk peristiwa tersebut serta menuntut dilakukannya penyelidikan menyeluruh terhadap peristiwa yang memalukan tersebut”, katanya.

Pakistan yang menjadi sekutu Amerika dalam perang melawan terorisme mempunyai hukum bagi siapa yang melakukan penghinaan kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad akan mendapat hukuman mati di negaranya.

Dalam sebuah wawancara dengan wartawan BBC, Abdul Rahim Muslim Dost, seorang tahanan Afgansitan yang baru saja dibebaskan dari pusat penahanan Guantanamo mengatakan, sejumlah tahanan Arab mogok bicara kepada para penyidik, sebagai unjuk rasa atas penistaan Al-Qur’an oleh penjaga penjara.

Dost menambahkan, para tahanan dicukur jenggotnya dan mendapat perlakuan keras selama interogasi.

Soal penghinaan agama di penjara Guantanamo sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, para tahanan juga mendapat perlakukan buruk. Misalnya dilarang mendengar suara adzan, dipaksa membuka pakaian di depan wanita.

Amerika menahan sekitar 520 tahanan di Teluk Guantanamo. Sebagian besar dari mereka merupakan aktifis Islam yang dikait-kaitkan dengan Taliban atau Al-Qaidah.

(hidayatullah.com)